Anak Tukang Potong Rumput Itu Kini Bergelar Master Ilmu Komunikasi
Penulis: Ari Sisworo SSos MIKom, alumni Magister Ilmu Komunikasi UMSU
Jumat barokah. Ya, Jumat kemarin, 30 Agustus 2024, saya resmi menyandang gelar Magister atau Master Ilmu Komunikasi, seusai mengikuti prosesi sidang di Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Jalan Denai, No.127, Kelurahan Tegal Sari Mandala, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan.
Sebuah pencapaian luar biasa dari seorang anak tukang potong rumput yang sekolah dasar (SD) saja tidak tamat. Saking susahnya kehidupan yang dijalani, membuat ayah saya harus rela meninggalkan sekolah saat masih kelas 5. Ketiadaan biaya merenggut masa depannya dan dipaksa keadaan untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup, membantu kedua orangtuanya.
Dari buruh bangunan, sampai akhirnya memilih jalan untuk menjadi tukang potong rumput. Profesi yang masih ditekuninya sampai sekarang. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 66 tahun.
Ibu saya sedikit lebih beruntung. Beliau tamat SD. Setidaknya, ibu saya punya ijazah yang menjadi satu-satunya di dalam hidupnya. Selembar kertas yang menjadi pengakuan seseorang pernah menempuh pendidikan. Selembar kertas yang begitu berharga di negara Indonesia raya tercinta ini.
Seorang ibu yang saat ini berusia 63 tahun itu juga mesti pontang-panting untuk membantu ekonomi keluarga. Dari tukang cuci di rumah-rumah tetangga, buruh pabrik, dan akhirnya memilih berjualan di rumah dengan membuka kedai kecil-kecilan. Dan Alhamdulillah, kedai itu masih ada sampai saat ini. Kedai yang telah menghidupi kami. Saya dan ketiga adik saya lainnya.
Kehidupan keluarga ayah dan ibu saya tak jauh berbeda. Sebelas-12. Andai saja, ekonomi kakek dan nenek saya dari pihak ibu bisa lebih baik kala itu, dan ibu saya bisa menempuh pendidikan lebih baik, saya haqqul yaqin beliau bisa jadi guru. Atau mungkin pekerjaan yang lebih baik. Ibu saya cukup pintar. Itu diakui adik-adiknya. Saya juga meyakini itu. Pendidikan zaman dulu, esensinya itu dapat. Sekarang, wallahualam bissawab. Pendidikan zaman sekarang, tak lebih dari sekadar mencari gelar. Hanya sedikit yang benar-benar ingin belajar dan mendapat ilmu.
###
Dulu. Ya, dulu! Saya sering dibawanya naik sepeda janda - sepeda Ontel - ke rumah kedua orangtuanya. Nenek saya. Di tengah gelap gulita jalan. Tak ada penerangan. Dari rumah kami yang berdinding tepas ke kediaman nenek itu sekitar 1,5 kilometer. Jangankan lampu listrik atau lampu penerangan jalan, lampu petromak saja masih jarang ada. Pohon-pohon besar masih berdiri tegak di pinggir-pinggir jalan. Pohon Asam Jawa, Sengon, dan jenis pohon lainnya. Kalau kita melihat ke atas pohonnya, bulu kuduk langsung berdiri.
Terkadang saya diajak ke rumah nenek di jam-jam sore. Biasanya akhir pekan, ketika ayah saya sedang tidak bekerja.
Suatu ketika, sambil mengayuh pedal sepedanya dengan membonceng saya di palang depan, ayah saya pernah berujar begini, "Ri, nanti sekolah yang tinggi ya. Biar kerjanya enak. Kerja pakai pulpen (ballpoint). Jangan kayak bapak, kerjanya pakai tenaga."
Seingat saya, waktu itu saya masih SD, sekira awal tahun 90-an. Pesan ini sering diucapkan kepada saya. Makanya, sampai saat ini pun saya masih ingat betul dengan pesan itu.
Ibu saya juga dulu kerap kali mengatakan hal yang sama. Pesan yang sama. Motivasi serupa agar kelak bisa mendapat pekerjaan lebih baik.
Ucapan ayah dan ibu saya itu rupanya manjur. Anak yang dulu diboncengnya naik sepeda itu, bisa tamat kuliah Strata 1. Meski dengan perjuangan luar biasa. Berpeluh-peluh, berpanas-panasan di tengah teriknya matahari.
Mustajabnya lagi, si anak itu bekerja dengan menggunakan pulpen untuk menulis hasil wawancara dengan narasumber. Pekerjaan yang sesuai jurusannya, jurnalistik, pada program studi Ilmu Komunikasi. Setamat kuliah, langsung keterima kerja di media. Sebagai seorang wartawan. Profesi yang sudah saya tinggalkan sejak 2021 lalu, meski belum sepenuhnya. Sebab, sekarang saya bekerja sebagai penulis berita untuk kepala daerah dan pejabat pemerintah daerah. Bidang serupa dengan profesi yang saya tekuni sebelumnya selama lebih kurang 12 tahun. Saya juga masih berkutat di bagian media di salah satu organisasi politik di daerah. Kondisi ini membuat saya mau tidak mau harus tetap bermedia. Catatannya, bukan lagi berorientasi pendapatan/gaji. Tidak ada penghasilan yang saya peroleh dari situ.
Selain itu pula, kerap ada saja teman atau kolega yang selalu minta tolong untuk buatkan berita. Ini saya lakukan hanya sekadar teman berteman, kawan berkawan. Andai ada rezeki dari situ, syukur Alhamdulillah. Jika tidak, juga tak mengapa.
###
Untuk menamatkan pendidikan S1, 15 tahun lalu, bukan semudah membalikkan telapak tangan. Berpeluh-peluh, berpanas-panasan di teriknya matahari. Nguli bangunan pernah saya jalani. Sebuah pekerjaan yang sebagian besarnya menggunakan otot ketimbang otak.
Pekerjaan yang berjasa besar bagi perjalanan saya. Pekerjaan yang mengantarkan saya menempuh pendidikan Strata I dan menyandang gelar sarjana.
Sepekan pascatamat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus bergelut dengan pasir, batu, semen, dan yang pastinya terik matahari. Agar tidak terpapar langsung panasnya matahari, saya sering memakai kaos yang diikatkan di kepala, kemudian 'menjelma' sebagai seorang Ninja.
Persoalan mau tidak mau, suka tidak suka menjadi seorang kuli bangunan, saat itu seolah menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa dielakkan. Dilatarbelakangi perekonomian keluarga yang begitu sulit, serta keinginan untuk melanjutkan pendidikan, mengalahkan semua rasa gengsi, malu, dan lainnya.
Terkadang di sela-sela kerja, biasanya istirahat makan siang. Kawan-kawan seprofesi lainnya langsung menggelar kertas semen yang sudah dibersihkan dan tidur. Ada juga yang mencari tempat di sudut-sudut bangunan. Saya tidak. Setelah makan, saya mencari tempat yang relatif sepi. Saya tidak tidur. Saya merenung, berpikir, malah sampai mengkhayal. Enak betul kawan-kawan lainnya dibiayai kuliah, jadi polisi, ada jaksa, pengusaha, dan lainnya. Sementara saya harus berpeluh-peluh, mengumpulkan barang seribu-dua ribu perak dari gaji yang tak seberapa.
Pernah suatu kali, saat saya menggowes sepeda menuju tempat kerja yang tak begitu jauh dari rumah. Tepat di sisi kanan ujung jalan ada warung kopi. Ketika melintas, saya melihat teman-teman sebaya sedang asyik ngopi, merokok, ngobrol ngalor-ngidul. Mantul (mantap betul) kawan-kawan saya ini, bisa nyantai bareng. Lah saya, harus genjot sepeda, kerja, angkat semen, batu dan lainnya. Saya melambaikan tangan. "Karejo dulu yo," kata saya waktu itu.
Saya tak bisa terus seperti itu, harus berubah. Setelah ngecor, saya mencoba peruntungan di bagian lain, tapi masih di bidang yang sama: kuli bangunan. Di bagian pembuatan relief. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar enam atau tujuh bulan, saya naik jadi setengah tukang. Gajipun naik, walapun masih kategori alakadarnya. Baru menikmati pengerjaan relief bangunan, sampai mandah (pulang seminggu sekali) dari luar kota (lokasi kerjaan), saya terkena penyakit alergi. Penyebabnya adalah karena abu semen yang melekat di kulit dan sulit dibersihkan.
Kerja bangunan ini, tak seterusnya ada. Habis kerjaan, kembali jadi pengangguran. Tapi Alhamdulillahnya, saya tak berlama-lama menganggur. Setiap lagi kosong, saya ikut toke ayam. Terkadang mengambil pesanan ayam ke kandang milik distributor ayam, setelahnya langsung diantar ke pajak-pajak. Ikut jualan ayam di pajak juga sering. Menjadi petani apalagi. Walau hanya sekadar sebagai buruh cabut rumput mengharap imbalan sepantasnya. Jualan sayur dan buah-buahan. Tukang las. Jual botot. Begitu terus. Tak ada waktu berleha-leha seperti yang dilakukan teman-teman sebaya di kampung.
Dari uang yang saya kumpulkan, saya pun mendaftar kuliah. Aktivitas baru dengan segala keterbatasan. But the show must go on. Hingga pada tahun kedua kuliah, tepatnya usai ujian semester III, malamnya saya mengalami kecelakaan. Kaki kanan saya patah. Selama satu tahun saya harus menepi dari semua aktivitas, dan hanya bisa terbaring dan terduduk diam di rumah. Setiap tidur, sering saya bermimpi pergi kuliah. "Ini (kuliah) harus selesai, tidak boleh putus di tengah jalan," tekadku saat itu.
Setelah sembuh, lagi-lagi saya bekerja sebagai kuli bangunan. Kali ini sebagai tukang cat. Saya tekuni kerjaan itu, karena relatif lebih ringan dibanding kerjaan-kerjaan lainnya. Dan dari sini pulalah saya bisa menyambung kuliah. Sampai pada semester VII, saat penyusunan skripsi, saya merantau ke Aceh sebagai tukang cat. Hasil yang ditabung menjadi modal menyelesaikan tugas akhir itu. Alhamdulillah wa syukurillah, akhirnya saya tamat. Perjuangan yang cukup melelahkan terbayar sudah.
Bahkan, warga kampung dan tetangga, banyak yang tidak tahu kalau saya kuliah dan sudah sarjana. Mereka tahunya, saya hanya seorang kuli bangunan.
Nah, dari pekerjaan sebagai buruh kasar itu jugalah saya bertemu dengan 'Ibu Negara', mantan pacar yang sekarang menjadi istri saya. Kalau tidak salah, sewaktu saya semester V-VI dulu. Kalau sekarang saya tanya, kenapa dia mau dengan saya? Padahal dari sisi ketampanan memprihatinkan, dari sisi materi miris, bukan dari keluarga terpandang. Jawabannya, meski hanya buruh kasar dan kerja apapun, yang penting halal dan kuliah. "Kalau papa tak kuliah dulu, tak mau mama," katanya sekarang sambil senyum meringis.
###
Kini, saya sudah menyandang gelar Master Ilmu Komunikasi. Saya menjadi orang pertama di keluarga yang mampu menempuh pendidikan setinggi itu. Baik dari keluarga ayah maupun ibu. Sama halnya waktu masih sarjana. Saya juga orang pertama.
Motivasinya apa? Sederhana saja. Saya ingin membuat bangga kedua orangtua dan keluarga.
"Kalau orangtuamu tak punya nama besar untuk dibanggakan, besarkanlah mereka dengan nama baikmu. Maka orang akan bertanya, siapa orangtuanya?"
Syukur-syukurnya juga bisa menjadi contoh baik bagi keluarga, jiran tetangga dan lainnya. Dengan segala keterbatasan, jangan pernah menyurutkan niat dan semangat untuk maju. Untuk berkembang. Menata kehidupan yang lebih baik. Berpendidikanlah agar cakrawala berpikirmu terbuka lebar. Dunia tak selebar daun Kelor.
Menjadi contoh bagi jiran tetangga dan lainnya, sebab di kampung (desa) tempat saya tinggal, teramat sedikit yang memiliki cita-cita untuk menempuh pendidikan tinggi. Mayoritas, setamat sekolah, mau itu SMA, bahkan SMP, mereka memilih untuk bekerja. Malah, yang putus sekolah jauh lebih banyak.
Ada anggapan begini di masyarakat, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau tidak jadi kaya. Ada juga yang bilang, tidak sekolah pun tetap makan.
Banyak juga dari mereka, terlebih anak-anak perempuan, setamat sekolah, masih usia muda, lebih memilih untuk menikah ketimbang melanjutkan pendidikan.
Sekolah tinggi-tinggi mau jadi apa?
Tan Malaka pernah berpesan, "Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan.
Kuliah memang tidak menjamin kita sukses, tapi kuliah mampu menjadikan kita pribadi yang lebih merdeka dan berbahagia. Lebih mudah menjalani hidup dan menyederhanakan berbagai permasalahan di dalamnya.
Karena orang yang berpendidikan itu "berbeda", baik dalam komunikasinya, pola pikirnya, cara kerjanya, cara menjalankan bisnisnya, menangani permasalahan, dan lain sebagainya.
Kuliah bukan semata untuk bekerja, tapi untuk bekal menjalani hidup. Seumur hidup."
Saya ingin membagikan secuplik kisah yang juga sangat menginspirasi dari seorang mahasiswi di Filipina. Namanya, Vilma Talibukas Abwatan. Kisahnya berseliweran di laman media sosial dan online.
Vilma merupakan anak dari seorang petani di Filipina. Dengan perjuangan kerasnya, dan keinginannya untuk menjadi seorang guru, Vilma menyeimbangkan antara sekolah dan pekerjaan, ia akhirnya lulus dari jurusan Bachelor Of Technical Vocational Teacher Education Kampus Baco Community College, Provinsi Oriental Mindoro, Filipina.
Momen haru terjadi saat Vilma wisuda. Saat itu, sang ayah datang dengan pakaian biasa saja. Hanya memakai kaus, celana training dan sandal. Vilma tidak malu. Dia menggandeng sang ayah.
"Kemiskinan tidak boleh menghentikanmu untuk mengejar pendidikan, yang kau butuhkan adalah kerja keras untuk meraih impian". - Vilma Talibukas -
Jadi, andai apa yang saya lakukan ini tidak bisa memotivasi jiran tetangga, masyarakat sekitar, dan lainnya untuk menempuh pendidikan tinggi, tak mengapa.
Mudah-mudahan apa yang saya jalani ini bisa dijadikan panutan bagi keluarga, terutama anak-anak saya. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan serta dipenuhi perjuangan, pengorbanan, ayah mereka tak pernah putus asa untuk mendapatkan pendidikan.
Pendidikan bukan hanya milik orang berada, punya orang berduit. Pendidikan adalah hak setiap individu, baik kaya maupun miskin.
Dengan pendidikan, engkau akan mampu mengubah dunia.
"Kalau ingin melakukan perubahan, jangan tunduk pada kenyataan. Asalkan kau yakin di jalan yang benar, maka lanjutkan." - Gus Dur -
###
Last but not the least. Apakah pencapaian ini akan menjadi yang terakhir bagi saya? Tentu tidak. Saya punya keinginan untuk melanjutkannya lagi. Jenjang Strata 3. Pendidikan doktoral.
Saya belum tahu, apakah bisa secepatnya, atau harus menunggu berapa lama. Tapi yang pasti, niat baik akan memberi hasil baik. Semoga ada jalannya.
Seperti di awal saya katakan, prosesi sidang yang saya jalani berlangsung di hari baik, Jumat. Semoga di hari Jumat itu memberikan keberkahan, ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat dan membuka pintu rezeki selebar-lebarnya untuk memuluskan niat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. (*)




Komentar