Petani Cabai Kian Menderita, Pilkada Tidak Mampu Dongkrak Belanja Masyarakat?

KARO, SUMUT, 1/9 - PAKAI MASKER. Seorang petani memakai masker saat memetik cabai merah di desa Semangat Raja Payung Kecamatan Merdeka Berastagi Kabupaten Karo, Sumut, Rabu (1/9). Sejumlah petani yang berada di kawasan gunung Sinabung kini masih tetap melakukan aktifitas bertani dengan menggunakan masker. Harga cabai merah pada musim panen berkisar Rp 1.000 per kilogram. FOTO ANTARA/Septianda Perdana/10

RUBIS.ID, MEDAN - Berdasarkan hasil pemantauan melalui PIHPS, harga cabai merah di awal pekan ini ditransaksikan rata-rata 19.800 per Kg. Lebih rendah dibandingkan dengan perdagangan akhir pekan kemarin yang masih berada dikisaran 21.600 per Kg nya. Bahkan di beberapa pedagang di deli serdang, harga cabai merah ada yang dijual 12 ribu per Kg nya.

"Hal yang sama juga terjadi pada harga cabai rawit. Dimana harga cabai rawit ditransaksikan turun rata-rata menjadi 24.200 per Kg, dari posisi akhir pekan sebelumnya yang berada di kisaran 24.700 per Kg. Padahal banyak petani cabai yang mengharapkan bahwa konsumsi cabai bisa naik selama Pilkada di bulan November tahun ini," kata Gunawan Benjamin selaku Ekonom dan Ketua Bahan Pangan Sumut kepada wartawan, Senin (25/11).

Sementar itu, Penurunan harga cabai ini lebih dikarenakan sisi persediaan atau supply yang mengalami peningkatan. Sehingga harga cabai mengalami tekanan yang cukup signifikan. "Sementara dari sisi demand, saya menilai belanja masyarakat selama Pilkada mengalami kenaikan. Daging ayam bisa menjadi salah satu indikator terjadinya peningkatan konsumsi masyarakat belakangan ini," pungkasnya.

Masih dikatakannya, Harga daging ayam mengalami kenaikan sekitar 1.000 hingga 2.000 per Kg. Meskipun dilapangan memang terjadi penyusutan supply di masa tenang jelang pencoblosan. Dan secara keseluruhan, konsumsi daging ayam tetap mengalami kenaikan. Sayangnya konsumsi daging ayam di bulan November ini masih lebih rendah dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2023 silam.

" Temuan ini menjadi kabar yang kurang menyenangkan, karena Pilkada nyatanya tidak memberikan perubahan besar bagi belanja masyarakat di November tahun ini. Kesimpulan yang bisa ditarik adalah sekalipun belanja masyarakat relatif mengalami kenaikan dibandingkan hari biasa. Namun tren perlambatan ekonomi di Sumut sulit dihentikan," ujar Benjamin Gunawan.

Ia menerangkan, Pilkada Sumut di tahun ini juga menyisahkan masalah ekonomi lainnya. Yakni Sumut berpeluang terancam deflasi selama bulan November ini." Ancaman ini tidak bisa diremehkan. Belanja yang besar dari kontestan yang maju Pilkada, justru tidak mendorong kenaikan harga yang menjadi indikator menggeliatnya ekonomi. Yang terjadi justru bisa diterjemahkan sebaliknya," tutupnya. (Red)

Komentar

Loading...