1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. Nasional
  4. News
  5. Perbankan

OJK dan BI Dorong Generasi Muda Jadi Agen Literasi Keuangan Digital

Oleh ,

Ket foto: Anggota Dewan Komisioner OJK Ex-Officio BI, Juda Agung, saat memberikan kuliah umum dalam kegiatan OJK Mengajar bertema “Inovasi Digital di Sektor Keuangan Indonesia” di ITS Surabaya, Jumat (7/11/2025).(Dok.OJK/ ist)

RUBIS.ID, SURABAYA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem keuangan digital yang inovatif, inklusif, aman, dan berintegritas di tengah pesatnya adopsi teknologi serta layanan keuangan digital oleh masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Dewan Komisioner OJK Ex-Officio Bank Indonesia, Juda Agung, dalam kegiatan OJK Mengajar bertema “Inovasi Digital di Sektor Keuangan Indonesia: Mendorong Inovasi dan Mitigasi Risiko” yang berlangsung di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jumat (7/11).

Dalam paparannya, Juda menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan digitalisasi tercepat di dunia. Menurutnya, hal ini ditopang oleh karakter masyarakat yang digital-native, tingginya kepemilikan perangkat seluler, dan semakin luasnya pemanfaatan internet.

“Jumlah handphone yang dimiliki mencapai 125 persen dari jumlah penduduk Indonesia, sementara screen time masyarakat kita rata-rata tujuh jam per hari. Jadi tidak heran jika adopsi transaksi digital tumbuh sangat cepat,” ujar Juda.

Perkembangan tersebut, lanjut Juda, telah mempercepat transformasi sektor jasa keuangan—mulai dari layanan pembayaran digital, perbankan digital, pembiayaan berbasis teknologi, investasi digital, hingga aset keuangan berbasis teknologi.

Transformasi digital ini mendorong kemudahan akses layanan keuangan bagi masyarakat melalui berbagai platform yang semakin inklusif. Inovasi ini juga membuka peluang bagi kelompok yang sebelumnya sulit mengakses layanan keuangan konvensional, seperti pelaku UMKM, masyarakat di daerah terpencil, serta generasi muda.

Namun, di balik peluang besar tersebut, Juda menekankan perlunya kewaspadaan terhadap meningkatnya risiko kejahatan siber, penipuan digital (fraud), phishing, serta serangan siber yang semakin kompleks.

OJK dan Bank Indonesia, katanya, terus memperkuat mitigasi risiko dan perlindungan konsumen melalui penguatan standar keamanan sistem, pengaturan, dan pengawasan, termasuk dengan pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) dan machine learning untuk meningkatkan deteksi dan pencegahan kejahatan keuangan digital.

Salah satu langkah nyata kolaborasi kedua lembaga adalah pembentukan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), sebagai pusat koordinasi nasional antara regulator dan pelaku industri jasa keuangan. IASC melibatkan perbankan, penyedia uang elektronik, dan e-commerce dalam mempercepat penanganan kasus penipuan digital serta pemblokiran dana secara efektif dan terintegrasi.

Selain itu, Juda juga menyoroti pentingnya sinergi antarotoritas dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah pesatnya transformasi digital.

“OJK tentu tidak bisa menjaga sistem keuangan sendirian. Bersama Bank Indonesia, LPS, dan Kementerian Keuangan, kami bergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga stabilitas di tengah risiko digital yang terus berkembang,” jelasnya.

Kegiatan OJK Mengajar yang menjadi bagian dari peringatan HUT ke-14 OJK turut dihadiri oleh Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati, Kepala OJK Provinsi Jawa Timur Yunita Linda Sari, Deputi Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Ridzki, Dekan Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem Prof. Juwardi, serta Kepala Departemen Teknik Sistem dan Industri Prof. Mokh. Suef. Acara ini diikuti lebih dari 150 mahasiswa dan civitas academica ITS.

Melalui kegiatan ini, OJK mendorong generasi muda menjadi agen literasi keuangan digital yang cerdas, etis, dan berdaya saing di tengah pesatnya perkembangan inovasi teknologi keuangan.(*)

Baca Juga