Peserta LK-2 HMI Langkat Gelar Analisis Sosial di Pasar Baru Stabat, Ungkap Permasalahan UMKM
RUBIS.ID, LANGKAT – Peserta Latihan Kader (LK-2) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Langkat melakukan kegiatan Analisis Sosial (Ansos) dengan turun langsung ke sektor UMKM di Pasar Baru Stabat, Kabupaten Langkat, Senin (17/11/2025). Kegiatan ini menjadi bentuk nyata peran HMI sebagai agent of change dan social control dalam melihat persoalan masyarakat dari lapangan.
Pasar Baru Stabat—pasar tradisional yang beroperasi sejak 1996—menjadi lokasi pengamatan kelompok 4 peserta LK-2 HMI yang terdiri dari Mhd Akbar Al Fikri Hrp, Muhammad Fahruddin, Linda Rangkuti, Arya Rahman, Husnul Hakki Daulay, Dzaky Zhalifunnas, dan Dea Novita. Mereka menelusuri aktivitas ekonomi para pedagang dan menemukan berbagai persoalan struktural yang selama ini membebani pelaku UMKM.
Pedagang Bertahan di Tengah Pungli dan Minimnya Fasilitas
Dalam kajian tersebut, peserta bertemu Ibu Ernawati, pedagang kaki lima yang telah berjualan sejak awal 2000-an. Ia menggantungkan hidup dari penjualan gorengan, minuman, dan rokok di lapak kecil yang dibangun sendiri.
Namun setiap hari ia harus membayar iuran Rp5.000 yang diakuinya sebagai pungutan liar, tanpa mendapatkan fasilitas apa pun dari pengelola pasar. Selama belasan tahun berjualan, ia juga tidak pernah menerima pembinaan maupun bantuan dari dinas terkait.
Meski kondisi lapak tidak pernah diperbaiki, Ibu Ernawati tetap berjualan dari pukul 07.00 WIB hingga sore demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Usaha Beras Toko Abang Adek Terdampak Kebijakan dan Infrastruktur
Temuan lain datang dari Ridho, pemilik Toko Abang Adek cabang 1 yang telah berjalan lima tahun dan memiliki lima cabang. Meskipun usahanya berkembang, ia mengaku minat beli masyarakat menurun dalam beberapa bulan terakhir.
Ridho menyoroti kebijakan pemantauan harga yang diberlakukan sebulan lalu namun tidak pernah dievaluasi. Monitoring oleh dinas perdagangan juga hanya dilakukan dua kali dalam sebulan, sehingga dinamika harga tidak terpantau dengan baik.
Selain itu, akses jalan menuju tokonya mengalami kerusakan parah hingga menghambat mobilitas pembeli dan distribusi barang. Dengan omzet sekitar Rp20 juta dan kutipan malam Rp30.000 per bulan, ia berharap pemerintah segera memperbaiki infrastruktur serta memperketat tata kelola pasar.
Lebih dari 20 Tahun Menunggu Perbaikan Pasar
Ibu Ratnajuwita, pedagang yang telah berjualan 25 tahun, mengaku kondisi pasar semakin tidak terawat. Ia menilai perbaikan fisik pasar sangat dibutuhkan agar pembeli merasa nyaman. Namun, hingga kini ia tidak pernah menerima pembinaan maupun dukungan fasilitas dari dinas pasar.
Harapannya sederhana: perbaikan sarana dan prasarana yang sudah lama diabaikan.
Temuan Ansos: Masalah Struktural UMKM di Pasar Baru Stabat
Dari hasil analisis sosial, peserta LK-2 HMI Cabang Langkat mengidentifikasi sejumlah masalah mendasar yang masih membelit pedagang di Pasar Baru Stabat, yaitu:
1. Minimnya intervensi pemerintah dalam pembinaan dan dukungan kepada pedagang.
2. Adanya pungutan liar dan kutipan tidak resmi yang membebani para pelaku UMKM.
3. Infrastruktur pasar dan akses jalan yang buruk, menghambat aktivitas ekonomi.
4. Kebijakan pasar yang tidak konsisten, termasuk monitoring harga yang kurang rutin.
5. Kondisi fisik pasar yang tidak layak dan minim perbaikan dalam jangka panjang.
Kegiatan Ansos ini diharapkan menjadi bahan refleksi bagi peserta LK-2 HMI terkait realitas sosial di masyarakat sekaligus masukan bagi pemerintah daerah untuk memperbaiki tata kelola pasar dan meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM di Kabupaten Langkat.(red)