1. Beranda
  2. News

FPM-SU Tantang Kapolrestabes Medan: Jermal 15 Jangan Jadi Panggung Pencitraan

Oleh ,

RUBIS.ID, MEDAN – Front Pemuda Mahasiswa Sumatera Utara (FPM-SU) melontarkan kritik keras terhadap penanganan kasus narkoba di kawasan Jermal 15, Medan. Ketua FPM-SU, Ilham Panggabean, menilai upaya penegakan hukum di wilayah tersebut selama ini terkesan hanya menjadi panggung pencitraan semata.

Menurut Ilham, setiap operasi yang dilakukan aparat selalu diwarnai dengan perataan barak-barak, penangkapan puluhan warga, serta dokumentasi yang masif. Namun ironisnya, peredaran narkoba di kawasan itu dinilai tak pernah benar-benar berhenti.

“Barak diratakan, kamera menyala, orang-orang kecil diborgol. Tapi setelah itu, bisnis narkoba hidup lagi. Ini pola lama yang terus berulang,” ujar Ilham dalam keterangannya, Selasa, (13/1)).

Ia mempertanyakan efektivitas penindakan yang dilakukan aparat penegak hukum. Jika pelaku terus ditangkap namun peredaran tetap berjalan, publik, kata dia, wajar mempertanyakan siapa pihak yang sesungguhnya mengendalikan jaringan narkoba di kawasan tersebut.

Ilham menegaskan, jaringan narkoba sebesar Jermal 15 tidak mungkin bertahan tanpa adanya perlindungan dari pihak tertentu. “Tidak ada bandar yang bisa bergerak bebas tanpa merasa aman. Dan rasa aman itu pasti datang dari adanya ruang atau pembiaran,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, lanjut Ilham, di masyarakat juga beredar dugaan mengenai sosok berinisial G yang kerap disebut-sebut sebagai figur kuat di balik peredaran narkoba di Jermal 15.

Dugaan itu, menurutnya, muncul karena selama ini yang tertangkap selalu pelaku kecil, sementara aktor utama tak pernah tersentuh hukum.
“Yang tumbang selalu pion. Rajanya tidak pernah terlihat di papan,” tegasnya.

Ilham Panggabean menilai Kapolrestabes Medan tidak bisa terus berlindung di balik statistik penangkapan. Ia menantang aparat untuk membuktikan keseriusan perang melawan narkoba dengan membongkar jaringan besar serta pihak-pihak yang selama ini diduga kebal hukum.

“Buka ke publik siapa yang memayungi dan siapa yang bermain di balik layar. Diam di tengah sistem yang busuk hanya berarti membiarkannya terus hidup,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar aparat tidak menyalahkan masyarakat jika kepercayaan publik terhadap penegakan hukum terus menurun. Menurutnya, ketika sebuah sarang narkoba tidak pernah benar-benar mati, maka yang patut dipertanyakan bukan lagi pelaku kecil, melainkan siapa pengendali sesungguhnya.

“Di titik inilah Kapolrestabes diuji: berpihak pada kebenaran, atau terseret dalam pembusukan yang sama,” kata Ilham.

Ia menegaskan, persoalan Jermal 15 kini bukan semata-mata soal narkoba, melainkan soal keberanian aparat penegak hukum untuk benar-benar bersih dan tegas. “Berani membersihkan sampai ke akar, atau memilih tetap nyaman di wilayah abu-abu,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kapolrestabes Medan belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan FPM-SU tersebut.(*)

Baca Juga