Industri Tekstil Mulai Adopsi Truk Listrik, Efisiensi BBM Capai 40% di Tengah Ketidakpastian Energi
Teks foto: Seremoni Penyerahan Truk Listrik Evershine Group pada tanggal 2 April 2026. Dari kiri ke kanan: Bapak Yoga Adiwinarto, Direktur Pengembangan Bisnis KALISTA; Bapak Albert Aulia Ilyas, Direktur Utama KALISTA; Bapak Peter Sung, Direktur Ever Shine Group; Bapak Michael Sung, Direktur Ever Shine Group.(Dok.Ist)
RUBIS.ID, TANGERANG - Ketidakpastian pasokan dan fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) akibat dinamika geopolitik global mulai berdampak pada sektor logistik di Indonesia. Kondisi ini mendorong pelaku industri untuk mencari solusi distribusi yang lebih efisien dan berkelanjutan, salah satunya melalui adopsi kendaraan listrik.
Langkah tersebut mulai diterapkan oleh PT Primarajuli Sukses (PRS), anak usaha PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI), yang mengimplementasikan truk listrik untuk operasional distribusi. Program ini difasilitasi oleh KALISTA sebagai penyedia ekosistem kendaraan listrik komersial.
Implementasi ini menjadi bagian dari strategi Ever Shine Group dalam meningkatkan efisiensi energi sekaligus mendukung target nasional net zero emission pada 2060. Saat ini, sekitar 70% kebutuhan energi perusahaan ditargetkan berasal dari energi terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit berbasis gas yang telah terpasang, serta pengembangan PLTS tahap kedua yang direncanakan beroperasi pada Juli 2026.
Direktur Ever Shine Group, Michael Sung, mengatakan penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah strategis perusahaan dalam menghadapi tantangan kelangkaan BBM. “Penggunaan enam unit truk listrik untuk distribusi di wilayah Jakarta dan Bandung menunjukkan hasil positif. Kami mencatat efisiensi biaya bahan bakar hingga 40%,” ujarnya.
Selain efisiensi energi, perusahaan juga menghadirkan satu unit minibus listrik untuk kebutuhan shuttle karyawan yang turut dioptimalkan untuk distribusi barang saat tidak digunakan.
Dalam implementasinya, PRS menggunakan skema fleet-as-a-service dengan model operating lease dari KALISTA. Skema ini memungkinkan perusahaan melakukan transisi tanpa investasi awal kendaraan, sekaligus mengalihkan tanggung jawab operasional dan pemeliharaan kepada penyedia layanan.
KALISTA juga melakukan kajian menyeluruh terhadap pola operasional PRS untuk menentukan jenis kendaraan yang sesuai, sekaligus merancang strategi pengisian daya, termasuk pembangunan infrastruktur charger dan pemanfaatan SPKLU di sepanjang rute Jakarta–Bandung.
Direktur Pengembangan Bisnis KALISTA, Yoga Adiwinarto, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah nyata menghadirkan solusi logistik rendah emisi. “Hasil uji coba menunjukkan efisiensi biaya operasional hingga 27% per bulan, sekaligus menekan emisi dan ketergantungan terhadap BBM,” jelasnya.
Armada yang digunakan terdiri dari empat unit Foton E-Miller dengan kapasitas baterai 81,14 kWh dan daya angkut hingga 4 ton, serta dua unit Foton E-Aumark berkapasitas baterai 63,75 kWh dengan daya angkut hingga 2,5 ton. Kedua jenis truk ini mampu menempuh jarak hingga 200 kilometer dalam sekali pengisian.
Untuk rute Tangerang–Bandung, pengisian daya dilakukan saat waktu istirahat dengan durasi sekitar 40 menit dari 20% hingga 80%, sehingga tidak mengganggu operasional distribusi.
Secara keseluruhan, hasil implementasi menunjukkan penghematan biaya energi mencapai 40% per bulan, pengurangan emisi hingga 30%, serta efisiensi biaya operasional sebesar 27%.
Inisiatif ini dinilai menjadi pionir di sektor tekstil dan berpotensi menjadi referensi bagi industri lain dengan kebutuhan logistik serupa. Seiring meningkatnya tekanan biaya energi dan tuntutan keberlanjutan, adopsi kendaraan listrik diperkirakan akan semakin meluas di berbagai sektor industri di Indonesia.(*)