1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. Nasional
  4. News

OJK Minta Masyarakat Pahami Fundamental Data Sebelum Investasi Kripto

Oleh ,

Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan bersama Asosiasi Blockchain Indonesia berfoto usai pembukaan Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026 di Jakarta, Selasa (7/4/2026).(Dok.OJK)

RUBIS.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) resmi menggelar Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026 sebagai upaya memperkuat pemahaman masyarakat terhadap aset keuangan digital, khususnya kripto, agar digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menegaskan pentingnya keseimbangan dalam bertransaksi kripto dengan berbasis pada analisis fundamental data yang kuat.

“Kita bertransaksi kripto harus seimbang. Seimbang berbasis pada fundamental analisis data yang kuat dan kita looking forward pada potensi peluang ke depannya,” ujar Adi dalam pembukaan BLK 2026 di Jakarta, Selasa (7/4).

Menurutnya, perdagangan aset kripto kini telah menjadi bagian nyata dari aktivitas ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, OJK terus berupaya menjaga keberlanjutan ekosistem industri melalui penguatan tata kelola serta perlindungan konsumen.

OJK juga melihat aset kripto memiliki potensi sebagai masa depan pasar keuangan (the future of financial market) yang dapat berkontribusi pada pembangunan nasional, termasuk dari sisi penerimaan negara. Data Direktorat Jenderal Pajak menunjukkan bahwa penerimaan pajak dari aset kripto pada 2025 mencapai Rp796,73 miliar dan meningkat menjadi Rp1,96 triliun pada Februari 2026.

Dari sisi transaksi, OJK mencatat nilai perdagangan aset kripto sepanjang 2025 mencapai Rp482,23 triliun, menurun dibandingkan 2024 yang sebesar Rp650,61 triliun. Penurunan ini dipengaruhi oleh faktor global serta siklus pasar kripto.

Meski demikian, tingkat adopsi kripto di Indonesia tetap tinggi. Adi menyebut Indonesia menempati peringkat ke-7 dalam Global Crypto Adoption Index 2025, yang mencerminkan tingginya penggunaan aset kripto di masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua ABI, Robby, menyampaikan bahwa industri aset keuangan digital Indonesia saat ini memiliki fondasi yang kuat dan mampu bersaing di tingkat global.

Ia menjelaskan, ekosistem kripto di Indonesia ditopang oleh tiga pilar utama, yakni bursa sebagai infrastruktur pencatatan transaksi real time, pedagang sebagai akses langsung ke investor ritel, serta kliring dan kustodi sebagai penjamin keamanan aset.

“Ketiga pilar ini memiliki peran penting dalam menjaga integritas dan keberlanjutan ekosistem aset kripto di Indonesia,” ujarnya.

BLK 2026 merupakan bagian dari program literasi berkelanjutan yang digagas OJK bersama ABI. Kegiatan ini akan digelar di sejumlah kota, seperti Jakarta, Solo, Yogyakarta, dan Manado.

Program BLK 2026 mencakup tiga fokus utama, yakni literasi kripto untuk masyarakat umum, literasi blockchain bagi mahasiswa, akademisi, dan pengembang, serta literasi kripto untuk aparat penegak hukum.

Hingga Februari 2026, jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia telah mencapai 21,07 juta, menunjukkan meningkatnya partisipasi masyarakat seiring berkembangnya ekosistem digital.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Anggota Komisi XI DPR RI Eric Hermawan dan Kepala Bappebti, Tirta Karma Senjaya, serta para pelaku industri aset keuangan digital dan kripto.(*)

Baca Juga