Ketua Umum HMI Komisariat UISU Medan: Kritik Harus Membangun, Bukan Meruntuhkan Kepercayaan Publik di Tengah PMB UISU
RUBIS.ID, MEDAN – Di tengah pelaksanaan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Islam Sumatera Utara, Ketua Umum HMI Komisariat UISU Medan sekaligus mahasiswa Fakultas Hukum UISU, Eric Salim, mengingatkan agar setiap kritik terhadap kampus tetap mengedepankan objektivitas, kehati-hatian, dan semangat membangun, sehingga tidak meruntuhkan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas berbagai opini yang berkembang di ruang publik mengenai kondisi PMB UISU.
Menurut Eric, kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi dan dunia akademik, namun harus disampaikan secara proporsional, berbasis fakta, serta berorientasi pada solusi.
"Kritik adalah hak setiap orang dan merupakan bagian dari kontrol sosial yang dijamin dalam kehidupan demokrasi. Namun kritik harus disampaikan secara proporsional, berbasis fakta, serta berorientasi pada solusi. Jangan sampai kritik yang seharusnya menjadi sarana perbaikan justru menimbulkan persepsi negatif yang dapat merugikan institusi pendidikan di tengah upaya membangun kepercayaan publik," ujarnya kepada wartawan, Jumat (3/7).
Sebagai mahasiswa Fakultas Hukum, Eric menilai setiap penilaian terhadap individu maupun lembaga harus didasarkan pada fakta yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia mengingatkan pentingnya menjunjung asas Audi et Alteram Partem, yakni setiap pihak berhak didengar keterangannya sebelum suatu kesimpulan diambil.
Menurutnya, tidak tepat apabila persoalan yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi langsung dikaitkan dengan pihak tertentu tanpa kajian yang komprehensif. Ia menilai dunia pendidikan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang kompleks, mulai dari persaingan antarkampus, perubahan minat calon mahasiswa, perkembangan teknologi, hingga kondisi ekonomi masyarakat.
"Jangan terburu-buru menunjuk pihak tertentu sebagai pihak yang harus dipersalahkan tanpa melihat persoalan secara menyeluruh. Sebagai insan akademis, kita harus mengedepankan analisis yang objektif dan komprehensif agar tidak melahirkan kesimpulan yang prematur," katanya.
Eric juga menyampaikan apresiasi atas kepedulian para alumni terhadap almamater. Namun, ia berharap setiap kritik disertai gagasan, solusi, dan kontribusi nyata demi kemajuan kampus, sehingga perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi polemik yang dapat merugikan nama baik UISU.
Ia turut mengutip Surah Al-Hujurat ayat 6 yang mengajarkan pentingnya tabayyun atau verifikasi sebelum menyampaikan maupun menyimpulkan suatu informasi kepada publik.
Selain itu, ia mengingatkan kaidah fikih yang menekankan bahwa mencegah kemudaratan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan, sehingga setiap pernyataan perlu mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan.
Menurut Eric, UISU merupakan rumah besar bagi yayasan, pimpinan, dosen, mahasiswa, alumni, dan seluruh keluarga besar kampus. Karena itu, seluruh elemen diharapkan mengedepankan musyawarah, evaluasi yang objektif, serta semangat persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ia mengajak momentum PMB dijadikan sebagai ruang introspeksi dan pembenahan bersama dengan memperkuat kualitas akademik, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta membangun citra positif kampus melalui prestasi dan karya nyata.
"Saya mengajak seluruh civitas akademika, alumni, dan seluruh keluarga besar UISU untuk bersama-sama menjaga marwah almamater. Jika ada kekurangan, mari kita benahi dengan pemikiran yang konstruktif dan langkah yang solutif. Kampus ini terlalu berharga untuk dijadikan ruang saling menyalahkan. Yang dibutuhkan UISU hari ini adalah persatuan, kolaborasi, dan komitmen bersama untuk membawa kampus ini semakin maju," tutup Eric.
Ia menambahkan, UISU telah melahirkan banyak tokoh, akademisi, profesional, dan pemimpin yang berkontribusi bagi bangsa. Oleh sebab itu, menjaga marwah serta kehormatan kampus merupakan tanggung jawab moral seluruh keluarga besar UISU.(*)