1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. News

Akses Pembiayaan Jadi Kunci UMKM Naik Kelas, Anggi Rhaditya: Modal Harus Dipakai Secara Produktif

Oleh ,

RUBIS.ID, MEDAN – Akses pembiayaan yang tepat dinilai menjadi faktor utama dalam mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas, meningkatkan daya saing, serta tumbuh secara berkelanjutan di tengah persaingan ekonomi yang semakin ketat.

Hal itu disampaikan Direktur Utama PT Asoka Arians Properti, Anggi Rhaditya Lubis, S.P., M.M., saat menjadi narasumber dalam Workshop Pembiayaan UMKM Potensial yang diselenggarakan Bank Indonesia di Hotel Grand City Hall, Medan, 10 Juli 2026.

Selain memimpin PT Asoka Arians Properti, Anggi juga menjabat sebagai Ketua BPW HIPKA Sumatera Utara, Wakil Ketua REI Sumatera Utara, serta Bendahara Umum Persatuan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Sumatera Utara.

Dalam pemaparannya bertajuk Meningkatkan Akses Pembiayaan untuk Mendorong UMKM Potensial Naik Kelas, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan, Anggi menegaskan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Saat ini terdapat sekitar 65 juta UMKM yang berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap 97 persen tenaga kerja di Indonesia.

Meski demikian, besarnya kontribusi tersebut, menurutnya, belum diimbangi dengan kemudahan akses terhadap pembiayaan formal.

"Persoalan utama UMKM bukan semata kekurangan modal, tetapi sulit memperoleh pembiayaan yang sesuai. Banyak pelaku usaha belum memiliki laporan keuangan yang baik, legalitas usaha belum lengkap, literasi keuangan masih rendah, dan arus kas belum kuat sehingga belum memenuhi syarat sebagai usaha yang bankable," ujar Anggi.

Ia menekankan bahwa dana pembiayaan harus dimanfaatkan secara produktif, seperti meningkatkan kapasitas produksi, membeli mesin atau peralatan, melakukan digitalisasi usaha, hingga membuka cabang baru. Sebaliknya, penggunaan dana untuk kebutuhan konsumtif dinilai justru akan menghambat perkembangan usaha.

Menurut Anggi, indikator UMKM naik kelas dapat dilihat dari meningkatnya omzet, produktivitas, jumlah tenaga kerja, perluasan pasar, tata kelola usaha yang semakin profesional, hingga kemampuan mengakses pembiayaan formal.

"Pembiayaan yang tepat akan mendorong investasi, meningkatkan kualitas produk, memperkuat daya saing, dan menciptakan keberlanjutan usaha," katanya.

Berdasarkan pengalamannya sebagai pelaku usaha, Anggi juga membagikan sejumlah strategi agar UMKM dapat berkembang secara sehat. Di antaranya menjaga arus kas, menentukan prioritas investasi, membangun kepercayaan mitra bisnis, serta terus berinvestasi pada sektor pemasaran.

Ia turut mengingatkan pentingnya memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha, mencatat seluruh transaksi, melengkapi legalitas usaha, menggunakan rekening khusus usaha, menjaga rekam jejak pembayaran, serta mengelola arus kas secara disiplin. Menurutnya, langkah tersebut akan meningkatkan kepercayaan lembaga keuangan terhadap pelaku UMKM.

Lebih lanjut, Anggi menilai percepatan UMKM naik kelas tidak dapat dilakukan sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, pendamping UMKM, dan dunia usaha untuk membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.

"Penguatan literasi keuangan, perluasan akses pembiayaan, digitalisasi, serta kolaborasi lintas sektor harus terus diperkuat agar UMKM mampu berkembang dan berdaya saing," ujarnya.

Menutup paparannya, Anggi menegaskan bahwa akses pembiayaan tidak hanya berfungsi sebagai sumber modal, tetapi menjadi jembatan bagi UMKM untuk tumbuh menjadi usaha yang sehat, bankable, kompetitif, dan berkelanjutan.

"Dengan dukungan ekosistem yang kuat, UMKM diharapkan mampu menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa mendatang," pungkasnya. (Red)

Baca Juga