Perubahan Nilai Dakwah Islam di Ballroom Hotel Berbintang
Oleh: Dian Rahmad F. Dalimunthe, M.Si.
Ketua Bidang Humas, Media dan Publikasi Matahari Pagi Indonesia Sumatera Utara
MEDAN – Di tengah gemerlap ballroom hotel berbintang, ratusan anak muda berkumpul mengikuti kajian keagamaan bertema cinta, jodoh, dan perjalanan hijrah. Lampu kristal menerangi panggung, layar LED menampilkan visual yang menarik, sementara penceramah menyampaikan pesan-pesan spiritual dengan bahasa yang ringan, humoris, dan dekat dengan kehidupan generasi muda.
Untuk mengikuti kegiatan tersebut, peserta harus membeli tiket dengan harga yang tidak sedikit. Fenomena ini menjadi bagian dari tren yang kerap disebut sebagai hijrah premium, yakni aktivitas keagamaan yang dikemas secara modern, eksklusif, dan berbayar.
Sekilas, tidak ada yang keliru. Dakwah membutuhkan kreativitas, pengelolaan yang baik, serta fasilitas yang memadai agar pesan keagamaan dapat menjangkau lebih banyak orang. Namun, di balik kemasan yang menarik itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah dakwah masih menjadi jalan untuk memperdalam nilai spiritual dan memperjuangkan kemanusiaan, atau perlahan bergeser menjadi bagian dari industri hiburan dan gaya hidup?
Pertanyaan ini penting diajukan bukan untuk menghakimi para pendakwah maupun penyelenggara kajian, melainkan sebagai bahan refleksi bersama tentang arah perkembangan dakwah Islam di tengah masyarakat perkotaan.
Ketika Dakwah Bertemu Logika Pasar
Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat mengakses pengetahuan agama. Penceramah kini tidak hanya hadir di masjid, pesantren, atau majelis taklim, tetapi juga melalui seminar eksklusif, pertunjukan dakwah, siniar, dan berbagai kegiatan di hotel berbintang.
Kemasan modern tentu bukan sesuatu yang harus ditolak. Justru, inovasi dapat menjadi jembatan untuk mendekatkan agama kepada generasi muda yang hidup di tengah perubahan sosial dan teknologi.
Persoalan muncul ketika popularitas, penjualan tiket, kenyamanan fasilitas, dan citra eksklusif menjadi ukuran utama keberhasilan sebuah kegiatan keagamaan.
Dalam perspektif sosiologi agama, fenomena ini dapat dibaca melalui konsep komodifikasi agama, yakni ketika simbol, pesan, dan aktivitas keagamaan masuk ke dalam mekanisme pasar. Ajaran yang semestinya mengandung nilai spiritual, moral, dan sosial berpotensi diperlakukan sebagai produk yang ditawarkan kepada konsumen.
Gagasan sosiolog Bryan S. Turner tentang agama dan masyarakat modern dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami perubahan tersebut. Sementara itu, pemikiran Eva Illouz mengenai kapitalisme emosional membantu menjelaskan bagaimana perasaan manusia, termasuk kesepian, kecemasan, dan kerinduan akan pasangan hidup, dapat menjadi bagian dari pasar.
Dalam konteks kajian bertema cinta dan jodoh, keresahan anak muda bisa menjadi pintu masuk dakwah yang relevan. Akan tetapi, keresahan tersebut juga berisiko berubah menjadi komoditas apabila pesan agama lebih banyak dipasarkan sebagai solusi instan atas persoalan pribadi.
Dakwah akhirnya tidak hanya menyampaikan nilai, tetapi juga menjual pengalaman: suasana nyaman, pertemuan dengan figur populer, materi yang menghibur, hingga kesempatan mengabadikan momen untuk media sosial.
Di sinilah batas antara penyampaian pesan spiritual dan pemasaran gaya hidup perlu terus direnungkan.
Agama Bukan Sekadar Terapi Patah Hati
Tidak dapat dimungkiri, persoalan asmara, pernikahan, dan kesehatan relasi merupakan bagian dari kehidupan manusia. Anak muda membutuhkan bimbingan agar mampu membangun hubungan yang sehat, memahami tanggung jawab pernikahan, serta menghadapi kekecewaan dengan cara yang bijaksana.
Dakwah yang membahas persoalan tersebut memiliki relevansi sosial. Namun, agama memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada urusan cinta dan jodoh.
Islam juga mengajarkan keadilan, kepedulian terhadap fakir miskin, perlindungan anak yatim, penghormatan kepada sesama, amanah, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.
Jika materi keagamaan terlalu didominasi tema yang mudah menarik perhatian pasar, terdapat risiko bahwa persoalan-persoalan kemanusiaan yang lebih luas kehilangan ruang.
Anak muda mungkin semakin akrab dengan istilah hijrah, ta'aruf, dan jodoh ideal, tetapi belum tentu memperoleh dorongan yang sama kuat untuk terlibat dalam kegiatan sosial, membantu masyarakat rentan, atau memperjuangkan keadilan di lingkungannya.
Tentu, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh kajian berbayar mengabaikan persoalan sosial. Banyak pendakwah dan penyelenggara kegiatan yang justru memadukan dakwah dengan aksi kemanusiaan.
Namun, refleksi kritis tetap diperlukan agar popularitas sebuah kajian tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan dakwah.
Agama seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menenangkan hati. Agama juga harus membangkitkan kesadaran, memperbaiki perilaku, dan mendorong manusia untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Jangan Sampai Akses Ilmu Ditentukan Ketebalan Dompet
Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah akses terhadap ilmu agama.
Ketika kajian dengan penceramah populer lebih sering diselenggarakan melalui tiket berharga tinggi, masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas mungkin menghadapi hambatan untuk mengikutinya.
Memang, tiket dapat digunakan untuk membiayai sewa tempat, konsumsi, perlengkapan, transportasi, dan kebutuhan operasional lainnya. Mengadakan kegiatan di hotel berbintang pun tidak serta-merta menjadikan dakwah kehilangan kesakralannya.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata ada atau tidaknya biaya, melainkan bagaimana penyelenggara menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan dan semangat keterbukaan dalam menuntut ilmu.
Jangan sampai tumbuh kesan bahwa pengalaman beragama yang berkualitas hanya dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan finansial lebih besar.
Prinsip egalitarianisme dalam Islam menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, pakaian, ataupun tempat seseorang menghadiri kajian.
Semangat tersebut perlu tercermin dalam praktik dakwah. Kajian berbayar dapat berjalan berdampingan dengan majelis ilmu yang terbuka, kegiatan sosial, pengajian gratis, dan program pembinaan masyarakat yang menjangkau kelompok kurang mampu.
Dengan demikian, modernisasi dakwah tidak berubah menjadi pembatas baru yang memisahkan umat berdasarkan kelas ekonomi.
Mengembalikan Dakwah pada Misi Kemanusiaan
Dakwah yang hidup di tengah masyarakat modern tidak harus menolak hotel, teknologi, media sosial, atau pengelolaan acara secara profesional. Semua itu dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan pesan keagamaan.
Yang perlu dijaga adalah orientasi dan substansinya.
Penceramah perlu tetap memiliki keberanian menyampaikan pesan yang tidak selalu populer. Penyelenggara perlu memberikan ruang bagi tema-tema keadilan sosial, kepedulian terhadap kelompok rentan, serta tanggung jawab umat terhadap persoalan di sekitarnya.
Sementara itu, masyarakat juga perlu menjadi peserta yang kritis. Jangan hanya menilai kajian dari kemegahan panggung, popularitas penceramah, atau bagusnya dokumentasi di media sosial. Nilailah pula kedalaman materi, ketepatan pesan, dan perubahan perilaku yang dihasilkan setelah kegiatan berakhir.
Apakah peserta menjadi lebih jujur? Apakah kepeduliannya terhadap sesama meningkat? Apakah semangat berbagi tumbuh? Apakah ilmu yang diperoleh mendorong lahirnya tindakan nyata bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar berapa banyak tiket yang terjual atau seberapa ramai sebuah acara diperbincangkan.
Pada akhirnya, keberhasilan dakwah tidak semestinya hanya diukur dari jumlah peserta, besarnya panggung, atau tingginya nilai produksi sebuah kegiatan. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana pesan agama membentuk manusia yang berakhlak, berkeadilan, dan memiliki kepedulian sosial.
Dakwah boleh tampil modern, tetapi jangan kehilangan kedalaman. Dakwah boleh dikelola secara profesional, tetapi jangan mengabaikan keterjangkauan. Dakwah boleh berbicara tentang cinta dan jodoh, tetapi jangan melupakan kemiskinan, ketidakadilan, serta penderitaan sesama.
Sebab, agama bukan sekadar tempat mencari ketenangan bagi diri sendiri. Agama juga merupakan sumber nilai untuk membangun kehidupan yang lebih adil dan bermartabat.
Mimbar boleh berpindah ke ballroom hotel berbintang, tetapi misi dakwah tidak boleh berhenti pada kemewahan panggung.(**)