Bea Cukai Aceh Dukung Penguatan Ekosistem Digital Komoditas Nilam Lewat FGD Bersama ARC USK

RUBIS.ID, BANDA ACEH – Bea Cukai Aceh terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ekosistem komoditas unggulan daerah, salah satunya nilam. Komitmen ini ditunjukkan melalui keikutsertaan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kajian dan Kebijakan Peningkatan Ekosistem Rantai Nilai Komoditas Nilam Indonesia”, yang diselenggarakan oleh Atsiri Research Center (ARC) Pusat Unggulan Iptek (PUI) Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala di Hotel Ayani, Banda Aceh, Kamis (21/8).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif lintas sektor dalam mengembangkan sistem digital berbasis platform Enterprise Resource Planning (ERP) myNilam — aplikasi inisiasi International Labour Organization (ILO) yang bertujuan mengintegrasikan rantai nilai komoditas nilam dari hulu ke hilir.

Kepala ARC PUI Nilam Aceh, Dr. Ir. Syaifullah Muhammad, ST, M.Eng, dalam pemaparannya menjelaskan bahwa FGD ini bertujuan untuk menyatukan perspektif para pemangku kepentingan terhadap hasil kajian rantai nilai nilam serta merumuskan arah kebijakan yang tepat.

“Dengan pendekatan ini, kita ingin memastikan bahwa transformasi digital dalam ekosistem nilam dapat terimplementasi secara optimal, sehingga mampu memberikan dampak nyata bagi petani, UMKM, hingga industri,” ujarnya.

Bea Cukai Aceh yang diwakili oleh Muparrih, Kepala Seksi Bimbingan Kepatuhan dan Hubungan Masyarakat, menyampaikan dukungan penuh terhadap digitalisasi sektor nilam di Aceh.

“Salah satu peran Bea Cukai adalah sebagai industrial assistance dan trade facilitator. Kita tahu bahwa Aceh merupakan penghasil minyak nilam berkualitas tinggi. Semoga dengan adanya myNilam, dapat tercipta kemakmuran bagi petani dan UMKM nilam,” jelasnya.

Muparrih juga menekankan pentingnya ketelitian eksportir dalam mencantumkan daerah asal barang pada dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB).

“Customs clearance ekspor nilam Aceh sering kali dilakukan di luar wilayah Bea Cukai Aceh. Hal ini bisa menyebabkan data ekspor tidak sepenuhnya mencerminkan realitas produksi nilam di Aceh. Kami mendorong eksportir agar lebih cermat dalam hal ini,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Bea Cukai Aceh juga menyatakan komitmennya dalam memberikan pendampingan dan asistensi ekspor kepada pelaku UMKM sektor nilam.

“Kami siap hadir mendampingi pelaku usaha nilam agar mampu menembus pasar ekspor dengan lebih mudah,” tambah Muparrih.

FGD ini dihadiri berbagai pihak terkait, antara lain PT Ugreen, PT GMU, ILO, BSI Maslahat, ARC USK, Pemerintah Kota Banda Aceh, Dinas Pariwisata Aceh, serta pemangku kepentingan lainnya yang bersama-sama mendorong penguatan ekosistem rantai nilai nilam Indonesia.(*)

Komentar

Loading...