Dari Sawit ke Penumpang: Stasiun Padang Halaban, Simpul Ekonomi yang Bertahan Selama Sembilan Dekade
RUBIS.ID, SUMUT - Stasiun Padang Halaban di Desa Perkebunan Panigoran, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara, terus memperkuat perannya sebagai simpul mobilitas masyarakat dan penggerak ekonomi daerah. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat stasiun ini melayani 11.365 pelanggan, tumbuh 20 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang sebanyak 9.450 pelanggan.
Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan Stasiun Padang Halaban memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan aktivitas perkebunan sejak resmi beroperasi pada 1937, bertepatan dengan rampungnya jalur kereta api Kisaran–Rantauprapat.
"Hampir sembilan dekade berlalu, Stasiun Padang Halaban tetap menjalankan fungsinya menghubungkan kawasan perkebunan dengan pusat-pusat ekonomi seperti Rantauprapat, Kisaran, Tebing Tinggi, hingga Medan," kata Anwar.
Pada awal berdirinya, stasiun ini difungsikan utama untuk melayani angkutan komoditas perkebunan, khususnya kelapa sawit dan karet. Angkutan perkebunan yang masih dilayani dari stasiun ini adalah crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) melalui jalur simpang menuju Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT SMART.
Anwar menjelaskan, seiring berjalannya waktu, peningkatan kebutuhan mobilitas masyarakat membuat stasiun ini bertransformasi dari sekadar simpul logistik menjadi jembatan mobilitas warga setempat. Hal tersebut ditopang oleh operasional enam perjalanan KA Sribilah Utama yang berhenti untuk melayani naik-turun penumpang setiap hari.
Selain menjadi tulang punggung transportasi yang aman, nyaman, dan tepat waktu bagi warga sekitar, yang secara historis didatangkan sebagai pekerja perkebunan, Stasiun Padang Halaban kini turut membuka akses menuju berbagai potensi wisata alam di Labuhanbatu Utara.
Salah satu daya tarik unik berada tidak jauh dari stasiun, yakni pada jalur simpang menuju PKS PT SMART. Lokasi yang dikenal sebagai Lorong Negeri atau Padang Halaban View tersebut menyajikan pemandangan jalur kereta api yang dinaungi pepohonan tua lebat hingga menyerupai terowongan hijau.
"Sambil menunggu jalur tersebut kembali digunakan untuk melayani angkutan CPO dari PKS menuju ke stasiun, saat ini lokasi tersebut banyak digunakan oleh masyarakat sebagai destinasi wisata fotografi," kata Anwar.
Meskipun layanan angkutan komoditas perkebunan dari jalur tersebut terakhir tercatat aktif pada 2025 dan saat ini belum beroperasi kembali, KAI Divre I Sumayera Utara tetap melihat potensi besar pengembangan angkutan barang di masa mendatang seiring dengan kesiapan layanan dan kebutuhan pengiriman komoditas.
"Stasiun Padang Halaban adalah bukti nyata bagaimana perkeretaapian mampu bertransformasi dari sarana pengangkut hasil bumi menjadi jembatan mobilitas masyarakat sekaligus penopang distribusi logistik. KAI Divre I Sumatera Utara berkomitmen untuk terus memperkuat dan mengoptimalkan peran strategis ini demi mendukung konektivitas serta pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara," tutup Anwar.(*)




Komentar