Pernyataan Sikap Sebagai PR-98 Dalam Menyikapi Situasi Negara Saat ini

RUBIS.ID - Seperempat abad perjalanan yang telah ditempuh di alam Reformasi bukan menjadikan Cita-Cita dan Tujuan dari Gerakan Reformasi 98 tersebut mencapai Target Harapan akan adanya sebuah perbaikan tata kelola dan sistem berdemokrasi yang berkeadilan pasca tumbang nya rezim otoriter Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun.

Bahkan buah dari hasil perjuangan Gerakan Reformasi 98 tersebut cendrung digunakan atau menjadi alat untuk melahirkan dan menjadi perpanjangan tangan rezim-rezim baru untuk melakukan hal dan cara-cara yang sama, sebagai upaya merebut dan mempertahankan kekuasaan, Sementara Tujuan dan Cita-Cita dari perjuangan tersebut cenderung diabaikan dan dicampakkan, sebab dianggap menjadi sempalan untuk dapat melanggengkan kekuasaan.

Keharusan mengawal reformasi meraih Tujuan dan Cita-Cita yang tertuang dalam Tuntutan Reformasi 98 semestinya menjadi PR bersama dari semua elemen dan komponen Gerakan, terutama yang sejak awal menginginkan adanya perubahan yang lebih baik dalam Tata Kelola dan berdemokrasi di NKRI tercinta ini, sehingga sampai lah kita pada wujud dari perjuangan yang diinginkan.

"Disitulah letak konsistensi dan komitmen perjuangan dalam mempertahankan Nilai Moral dari hasil perjuangan, sehingga menjadikan budaya dan moral bangsa yang lebih beradab.
Kalau lah kita berada di alam reformasi, dimana tujuan dan cita - cita dari tuntutan reformasi tersebut dicabik-cabik, lantas sesungguhnya alam apa ini ?," Demikian disampaikan oleh M. Khairul Ikhwan Harahap, sebagai Komando Aksi, Pengawal Reformasi, yang bernaung dalam Wadah Aktivis Pengawal Reformasi 98 (PR-98), yang juga salah seorang pendiri Gerakan Perjuangan Buruh pasca Reformasi, (SBSU), yang juga menyatakan dirinya sebagai "Pengamat Politik Kacangan", tapi bukan Kacang yang lupa kulit, melainkan Kacang yang masih memiliki kulit, sehingga masih nyata wujud kacang yang sesungguhnya, dalam "NGOMPOL" Ngomong-Ngomong Politik, dalam sebuah lokasi yang dinamai Pendopo Kerakyatan, (24/5) kemarin yang lalu.

Selain itu, sambil tersenyum, beliau menyampaikan seraya mengajak, bukan untuk mengejek, dan merangkul walau mungkin ada yang merasa terpukul, bahwa khitoh jabatan dan kekuasaan yang didapat saat ini, seharusnya digunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan kekurangan, bukan malah menjadi penumpang gelap untuk memburu bahkan untuk mempertahankan kekuasaan dalam meraih kepentingin diri, kelompok atau golongan tertentu.

"Sebab bisa jadi bahwa kita bukan lah Pejuang yang sesungguh nya, melainkan Penghianat terhadap Nilai yang ingin dicapai dalam sebuah Perjuangan tersebut, akibat nafsu ingin mendapatkan jabatan dan berkuasa," ujarnya.

Ia menambahkan, PR ini yang harus segera kita selesaikan, untuk mengantarkan negara pada Tujuan dan Fungsi sesungguhnya, sebagai Pelayan terhadap Pemilik Kedaulatan sesungguhnya, bukan malah menjadikan Pemilik Kedaulatan sebagai alat meraih kedaulatan.

Beliau juga berharap, semoga muncul kesadaran dari tidur panjang seluruh rakyat dalam menyikapi perjalan roda pemerintahan dari 10 tahun belakangan bahwa kita bisa menjadi bangsa yang beradab dan bermartabat dihadapan rakyat sebagai pemilik kedaulatan, maupun di mata dunia internasional. Dan PR ini perlu terus dilakukan sebagai ikhtiar untuk dapat mewujudkannya.

Dia juga menyampaikan Salam hormat, untuk Kaum - Kaum Tercerahkan yang terus konsisten dan berkomitmen untuk berjuang walau dalam diam, akan tetapi tidak menjadi bahagian dari mereka yang ingin merusak dan menghancurkan Nilai Perjuangan yang pernah ada itu.

"Semoga Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa senantiasa memberikan Rahmat dan HidayahNya, kepada kita semua dalam saling mengingatkan, menjadikan jabatan dan kekuasaan yang diberikan sebagai amanah untuk dapat mengemban tugas, baik dimata Rakyat sebagai Pemilik Kedaulatan maupun dimata Tuhannya,"tutupnya.(red)

Komentar

Loading...