BEI Dorong Investasi Berkelanjutan Lewat ESG dan Bursa Karbon Indonesia
RUBIS.ID, JAKARTA – Investasi berkelanjutan kini menjadi pilar utama dalam pasar keuangan global, termasuk di Indonesia. Tak hanya fokus pada keuntungan finansial, investasi berkelanjutan juga menekankan tanggung jawab terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan, atau yang dikenal dengan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance).
Bursa Efek Indonesia (BEI) aktif mendorong penerapan ESG melalui berbagai inisiatif strategis. Salah satunya adalah pengembangan indeks saham berbasis ESG, yang dapat dijadikan acuan oleh investor untuk memilih saham-saham perusahaan yang dinilai berkomitmen terhadap prinsip keberlanjutan.
BEI saat ini memiliki beberapa indeks ESG, antara lain:
Indeks SRI-KEHATI, hasil kerja sama dengan Yayasan KEHATI sejak 2009, yang mencakup saham-saham dengan komitmen kuat terhadap keberlanjutan.
ESG Leaders Index, yang mencakup Perusahaan Tercatat dengan skor ESG tinggi berdasarkan metodologi tertentu.
IDX LQ45 Low Carbon Leaders, yang berisi 45 saham unggulan dengan likuiditas tinggi dan jejak karbon rendah.
“Indeks-indeks ini mendorong praktik bisnis yang berkelanjutan dan menjadi panduan bagi investor yang mengintegrasikan ESG dalam strategi investasinya,” ungkap Kepala BEI Sumut, M. Pintor Nasution, dalam keterangan pers, Senin (04/08/2025).
Investor Makin Peduli ESG
Data BEI mencatat lonjakan signifikan dalam minat terhadap produk berbasis ESG. Nilai AUM ETF dan reksa dana berbasis indeks tematik ESG, seperti ESG Leaders dan SRI-KEHATI, melonjak 201 kali lipat menjadi Rp7,3 triliun, dengan jumlah produk meningkat 26 kali sejak 2015 hingga Juni 2025.
Penelitian juga menunjukkan bahwa perusahaan yang mengadopsi praktik ESG cenderung memiliki kinerja finansial lebih stabil dan tahan terhadap risiko eksternal. Tak heran, semakin banyak investor institusional dan global menjadikan ESG sebagai standar investasi.
Investor ritel pun turut berperan penting. Dengan memilih instrumen berkelanjutan, mereka ikut mendorong perusahaan menjadi lebih bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
5 Strategi ESG BEI
BEI mengembangkan lima strategi utama untuk memperkuat ekosistem investasi berbasis ESG:
1. Meningkatkan Kesadaran Publik
Edukasi dan promosi tentang pentingnya ESG terus digencarkan agar masyarakat tak hanya mengejar imbal hasil, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan.
2. Mendorong Kepatuhan Perusahaan Tercatat
BEI mendorong penerapan standar ESG global untuk meningkatkan daya saing, reputasi, dan kepercayaan investor terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia.
3. ESG Metrics Disclosure
BEI menyediakan sistem pelaporan ESG secara digital dan standar sesuai OJK dan ASEAN Exchanges. Ini menjawab tantangan minimnya data ESG di pasar modal nasional.
4. Peningkatan Likuiditas dan Instrumen ESG
BEI terus menghadirkan produk investasi berbasis ESG agar semakin banyak investor, termasuk institusi global, tertarik berinvestasi di pasar modal Indonesia.
5. Transisi Menuju Ekonomi Hijau
BEI mendukung pencapaian SDGs 2030 dan target Net Zero Emissions 2060 melalui pengembangan instrumen pasar yang ramah lingkungan.
Carbon Pricing dan IDXCarbon
Sebagai bagian dari upaya nasional menghadapi perubahan iklim, Indonesia meluncurkan Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) pada 2023, yang dikelola langsung oleh BEI. Langkah ini sejalan dengan komitmen pengurangan emisi sebesar 31,89%–43,20% pada 2030 sebagaimana tertuang dalam Nationally Determined Contributions (NDC).
Carbon pricing menjadi instrumen penting dalam strategi ini. Dua skema utama yang diterapkan adalah:
Carbon Tax (Pajak Karbon)
Perdagangan Karbon melalui dua mekanisme:
Emissions Trading System (ETS) – sistem cap-and-trade
Carbon Credits – perdagangan kredit dari proyek pengurangan emisi
Melalui IDXCarbon, perusahaan bisa melakukan transaksi kuota atau kredit karbon secara transparan dan terorganisir, yang membuka peluang bagi partisipasi domestik maupun internasional.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski potensinya besar, implementasi ESG dan perdagangan karbon menghadapi tantangan seperti keterbatasan data, kebutuhan regulasi yang kuat, dan literasi pelaku pasar. Namun, manfaat jangka panjangnya tak terbantahkan: dari pengurangan emisi, percepatan inovasi hijau, hingga penciptaan pasar modal yang inklusif dan berdaya saing global.
BEI optimis, dengan penguatan infrastruktur ESG dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, Indonesia dapat menjadi pemain kunci dalam transformasi ekonomi hijau dunia.
“Investasi berbasis ESG bukan hanya soal keuntungan, tapi juga komitmen terhadap masa depan yang berkelanjutan,” tutup M. Pintor Nasution.(EL)




Komentar