1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. News

Harga Cabai Merah dan Rawit Turun, Terjadi Ketimpangan Harga Antar Daerah di Sumut

Oleh ,

RUBIS.ID, MEDAN – Harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional Sumatera Utara tercatat mengalami penurunan signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (12/8). Di Kota Medan dan wilayah sekitarnya, harga cabai merah diperdagangkan dalam rentang Rp23.000 hingga Rp34.000 per kilogram. Penurunan harga ini turut diiringi dengan ketimpangan harga cabai rawit yang cukup mencolok antarwilayah.

Pengamat dan Ketua Bahan Pangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyebutkan bahwa harga cabai rawit di Deli Serdang saat ini berada di kisaran Rp38.000 per kg. Sementara di wilayah Gunung Sitoli, Nias, harga cabai rawit menyentuh angka Rp50.000 per kg.

"Perbedaan harga yang signifikan ini disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari rantai pasok, relasi distribusi, hingga daya beli masyarakat," ujar Gunawan.

Distribusi Jadi Faktor Kunci

Gunawan menjelaskan, perbedaan rantai pasok antara sumber produksi dan wilayah konsumsi menjadi penyebab utama ketimpangan harga. Cabai rawit, misalnya, banyak diproduksi dari daerah pegunungan seperti Kabupaten Karo, Dairi, dan Takengon, Aceh. Jarak distribusi yang jauh tentu mempengaruhi ongkos kirim, sehingga harga menjadi lebih tinggi di daerah yang jauh dari sumber produksi.

Sebagai contoh, cabai rawit di Deli Serdang—yang lokasinya relatif dekat dengan sentra produksi—lebih murah dibandingkan dengan di Gunung Sitoli yang berada di kawasan kepulauan.

Peran Pedagang Besar dan Rantai Pasok

Faktor lainnya adalah struktur distribusi pasar. Kota Medan menjadi pusat distribusi utama yang didominasi pedagang besar. Para pedagang ini mengambil barang langsung dari sentra produksi dan mendistribusikannya ke pedagang pengecer di wilayah kota. Hal ini menyebabkan harga cabai merah di Kota Medan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain seperti Tanjung Morawa.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah di Pasar Tradisional Brayan, Medan, berada di angka Rp34.000 per kg. Sedangkan di Pasar Tradisional Tanjung Morawa, harganya hanya Rp23.000 per kg. Tanjung Morawa yang dekat dengan Kecamatan Beringin—salah satu sentra produksi—memungkinkan distribusi lebih pendek dan efisien, sehingga harga bisa ditekan.

Daya Beli dan Faktor Sosial Lainnya

Gunawan juga menambahkan bahwa daya beli masyarakat turut memengaruhi harga pasar. Medan sebagai kota besar dengan jumlah penduduk yang padat memiliki tingkat konsumsi harian yang tinggi. “Ketika permintaan tinggi dan pasokan tidak mencukupi dalam satu hari perdagangan, maka harga cenderung lebih tinggi,” jelasnya.

Tak hanya itu, faktor cuaca, infrastruktur, dan budaya konsumsi masyarakat juga menjadi variabel penting dalam membentuk dinamika harga cabai di Sumatera Utara.

Meski terjadi ketimpangan harga antarwilayah, Gunawan menilai kondisi ini wajar dan bersifat sementara. “Pasar akan selalu mencari titik keseimbangan baru dalam suatu periode tertentu,” tutupnya.(EL)

Baca Juga