Cabai Merah Melonjak, Harga Ayam Turun, Minyak Goreng Tertahan Biaya Plastik

Foto : (Ilustrasi/ Istimewa)

RUBIS.ID, MEDAN – Harga sejumlah komoditas pangan strategis di Sumatera Utara menunjukkan tren yang beragam. Mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, harga cabai merah di Kota Medan mengalami kenaikan signifikan, sementara daging ayam justru turun. Di sisi lain, harga minyak goreng curah masih sulit turun meskipun harga bahan bakunya melemah.

Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyebutkan bahwa rata-rata harga cabai merah di Medan saat ini berada di kisaran Rp29.100 per kilogram, naik dari pekan sebelumnya sekitar Rp20.600 per kilogram. Bahkan, harga tertinggi tercatat di Pasar Beringin Gunung Sitoli yang mencapai Rp35.000 per kilogram.

“Kenaikan ini terutama disebabkan oleh penurunan pasokan. Panen di beberapa daerah seperti Batubara sudah mulai habis, ditambah pasokan dari Aceh yang juga berkurang,” ujarnya, Rabu (22/4).

Menurutnya, kondisi ini justru memberikan dampak positif bagi petani karena harga jual meningkat di tengah terbatasnya suplai.

Berbeda dengan cabai merah, harga daging ayam mengalami penurunan tajam. Hal ini dipicu oleh meningkatnya pasokan ayam hidup secara mingguan. Di sisi lain, daya beli masyarakat terhadap daging ayam juga cenderung melemah.

“Permintaan biasanya meningkat pasca Idul Fitri karena banyak kegiatan hajatan, namun saat ini justru melambat. Ini membuat harga turun seiring lemahnya permintaan,” jelasnya.

Meski harga pakan ternak mengalami kenaikan yang berdampak pada harga pokok produksi (HPP), kondisi pasar belum mampu menyerap produksi secara optimal. Akibatnya, tekanan harga daging ayam diperkirakan masih berlanjut dalam waktu dekat.

Sementara itu, harga minyak goreng curah justru menunjukkan tren kenaikan. Data PIHPS mencatat harga naik dari Rp20.150 per kilogram pekan lalu menjadi Rp21.300 per kilogram saat ini.

Kenaikan ini terjadi di tengah penurunan harga Crude Palm Oil di pasar global, yang turun dari sekitar 4.800 ringgit per ton pada awal April menjadi 4.550 ringgit per ton per 22 April.

Gunawan menjelaskan, kondisi tersebut mengindikasikan adanya faktor lain yang menahan penurunan harga minyak goreng. Salah satunya adalah lonjakan harga plastik yang bahkan disebut mencapai dua kali lipat.

“Kenaikan harga plastik menjadi faktor utama yang membuat harga minyak goreng sulit turun, meskipun bahan bakunya melemah,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa kenaikan biaya input pertanian seperti plastik mulsa, pupuk, dan pestisida belum sepenuhnya tercermin dalam harga saat ini. Dampaknya baru akan terasa pada musim panen berikutnya.

Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam berbelanja, sementara pemerintah diharapkan terus menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tengah dinamika pasar yang terjadi.(*)

Komentar

Loading...