Harga Gabah Anjlok di Sumut, Harga Beras Ikut Terkoreksi
Photo: (Ilustrasi/ Istimewa)
RUBIS.ID, MEDAN – Harga gabah di tingkat petani di Sumatera Utara mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, harga gabah kering panen saat ini berada di kisaran Rp6.800 per kilogram, turun dari sebelumnya yang sempat menyentuh Rp8.300 per kilogram. Hal ini turut memicu koreksi harga beras di pasaran.
Pengamat ekonomi dan Ketua Bahan Pangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa penurunan harga gabah ini berdampak langsung pada harga beras yang mulai melandai.
“Saya menemukan harga beras yang sebelumnya berada di kisaran Rp15.330 per kilogram, kini dijual di angka Rp14.660. Bahkan ada kilang yang menawarkan harga Rp13.666 per kilogram,” ungkap Gunawan kepada wartawan, Kamis (14/8).
Menurutnya, penurunan harga ini dipengaruhi oleh panen raya yang berlangsung serentak di sejumlah wilayah produsen padi di Sumut. Wilayah seperti Serdang Bedagai, Deli Serdang, dan Simalungun menjadi penyumbang terbesar produksi gabah pada bulan Agustus ini.
Lebih lanjut, Gunawan memproyeksikan harga beras akan terus turun hingga menyentuh kisaran Rp12.400 hingga Rp13.000 per kilogram di tingkat produsen, seiring dengan patokan Harga Acuan Pembelian (HAP) gabah oleh pemerintah yang berada di angka Rp6.500 per kilogram.
“Harga beras di tingkat konsumen bisa turun maksimal Rp2.000 per kilogram selama musim panen raya hingga kuartal pertama tahun depan,” jelasnya.
Puncak penurunan harga beras diperkirakan terjadi pada September 2025, dan kemungkinan akan bertahan hingga kuartal pertama 2026. Meskipun menjadi kabar baik bagi konsumen, kondisi ini justru mengkhawatirkan bagi petani. Namun, selama harga gabah masih berada di atas Rp6.500 per kilogram, Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan diyakini masih bisa bertahan di atas level 100.
Gunawan juga menyoroti potensi dampak dari distribusi beras SPHP oleh Bulog ke pasar. Ia menyarankan agar Bulog tidak membanjiri pasar dengan pasokan beras, agar tidak menekan harga terlalu dalam.
“Masyarakat kemungkinan akan tetap memilih beras lokal. Jadi sebaiknya Bulog fokus menyalurkan beras untuk program bantuan pemerintah, agar sirkulasi stok tetap terjaga dan tidak menimbulkan kerusakan karena penyimpanan terlalu lama,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa dampak penurunan harga di tingkat penggilingan (kilang) akan mulai terasa di tingkat konsumen pada pekan depan, seiring dengan perputaran stok di kalangan pedagang.
“Pedagang tentu tidak ingin rugi. Jadi sebelum harga baru terbentuk, stok lama harus habis terlebih dahulu,” pungkas Gunawan.(EL)