Wabup Yusuf Nache Hadiri Penanaman Cabe Bersama Kelompok Tani Faomasi
RUBIS.ID, NISEL - Untuk mendukung ketahanan pangan, Wakil Bupati Nias Selatan, Ir. Yusuf Nache, ST.,MM ikut menanam cabe bersama kelompok tani faomasi di lahan pertanian Boriwi di Desa Idala Jaya Hilisimaetano, Kecamatan Hiliamenamolo. Jum'at, (12/9)
Penanaman dilakukan di atas lahan seluas 0,5 hektar dengan varietas unggulan dan turut hadir perwakilan bank Indonesia wilayah Sibolga, perwakilan Forkompinda, Ketua bidang I TP PKK, kepala OPD, Camat Maniamolo, Kepala Desa, Tokoh Masyarakat, dan kelompok tani.
Wabup Nisel, Ir. Yusuf Nache, ST,.MM dalam sambutannya mengatakan bahwa kami memiliki visi misi salah satunya adalah ketahanan pangan yang dikomandoi kepala daerah.
"Terkait ketahanan pangan, kita wajibkan satu hektar perdesa untuk menyiapkan lahan pertanian dengan variasi ada jagung, cabe dan sayur lainnya", ujar Yusuf Nache.
Lanjut, Wabup Yusuf Nache menyampaikan bahwa untuk saat ini Pemkab Nisel sudah ready lahan kurang lebih 234 hektar seluruh Nias Selatan, dan tidak termasuk lahan 6 hektar kelompok Tani Faomasi
Jadi, kalau dikatakan bahwa lebih banyak lahan mereka di sana, itu salah. Nias Selatan selalu terdepan. Tentunya ini dalam rangka mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Nias Selatan.
Kadang-kadang beberapa Kepala Desa ini, kenapa kami mengarahkan ketahanan pangan ini dimulai dari jagung dan cabe. Supaya kepala desa ini nanti tidak salah menafsirkan.
Ada ketahanan pangan dia memelihara peternak, kalau pelihara ternak pelet atau gransum terbuat dari tanah harga terlalu tinggi. Makanya, kita mulai dulu buka lahan pertanian tahun ini kemudian tanam jagungnya. Ditahun berikutnya para kades supaya bisa membagi dua ketahanan pangan dibidang hewani serta pertanian ubi jalan. Supaya jagung (pakan) itu komponen terbesar jangan sampai harganya itu kemudian sudah tidak layak bagi usaha. Bagaimana misalkan jagung dengan harga tujuh ribu (7000) perkilo pasti tidak layak usaha untuk memelihara peternak. Jadi itu konsep Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan.
Kami sampaikan kepada kepala desa supaya ada pemahaman yang sama. Jangan pula kepala desa ini cenderung menanam jagung biar bisa mendapatkan keuntungan (jatah) dari para petani ini, bukan. Tapi, kami mau frame berpikirnya itu kita arahkan.
"Makanya, kami bersama pak Bupati Nias Selatan konsen dan mengawasi langsung ketahanan pangan ini dimasing-masing desa", imbuhnya.
Wabup Nisel menambah, bahwa para kepala desa mengatakan kenapa kami dilarang memelihara ternak babi. Apalagi informasi dari DPRD Kabupaten Nias Selatan ada yang memelihara ternak kandangnya baru dibangun dengan biaya sekira 50-70 juta. Namun, tidak jelas lahannya siapa yang punya. Bangun lahan, nanti ditanya siapa pemilik lahannya masyarakat.
"Jadi, kalau tidak jelas hibahnya karena wajib dicatatkan aset sebagai milik desa. Maka, kami mengingatkan kepala desa agar jangan main-main. Setelah pembukaan lahan ini selesai, maka para kepala desa akan berurusan dengan administrasi, yang pasti kami tidak tolerir", tandas Wabup.
Berdasarkan data statistik 98 % kebetulan cabe untuk Nias Selatan itu berasal dari sebrang. Maka ini adalah sebagai peluang bisnis kepada desa, BUMDES, dan kelompok tani. Seandainya para kepala desa ini dari dulu menggerakkan ketahanan pangan dari bulan Mei-Juni sebenarnya sudah mulai panen, sehingga masyarakat akan menikmatinya.
Demikian juga jagung, kita berkeinginan supaya jagung ini bukan di jual kepada tengkulak jual keluar. Makanya konsep bapak Presiden Prabowo Subianto terkait dengan koperasi merah putih itu. Jangan jagung itu lagi di jual kepada tengkulak, tapi dijual ke koperasi merah putih. Oleh koperasi kemudian nanti menjual kepada masyarakat yang membutuhkannya.
Kami dari pemerintah daerah Kabupaten Nias Selatan mengucapkan terimakasih kepada kelompok tani faomasi yang telah bersusah payah dalam mendukung visi misi ini. Demikian juga mengucapkan terimakasih banyak kepada seluruh masyarakat Kecamatan Maniamolo.
"Program ini adalah sangat bagus yang juga menunjang ketahanan pangan dari pada Kabupaten Nias Selatan", pintanya.
Kami mengharap kepada OPD terkait, agar catatan dan masukkan itu dicatat sebagai bahan kita pada pembahasan APBD 2026.
Sementara, ditempat yang sama, pembina kelompok tani faomasi, Hezekieli Waoma berharap kepada pemerintah daerah Kabupaten Nias Selatan agar bisa membantu kelompok tani faomasi dengan pembangunan infrastruktur jalan.
"Semoga insfratruktur jalan tani faomasi ini bisa menjadi perhatian utama dari Pemkab Nias Selatan", harapnya.
Tidak hanya itu, Hezekieli Waoma juga memiliki keluhan serius seperti pembangunan tembok penahan sawah, karena kalau banjir datang dapat merusak lahan kelompok tani faomasi.
"Untuk menghindari gagalnya kelompok tani faomasi ini, saya mengharapkan kepada Pemkab Nisel supaya tembok penahan sawah itu dibangun", imbuhnya. (Ikhtiar Wau)