Harga Emas Meroket, Bukti Ekonomi Sedang Tidak Baik-Baik Saja
(Foto: Red/ Istimewa)
RUBIS.ID, MEDAN – Harga emas dunia dalam dua tahun terakhir terus menunjukkan tren kenaikan signifikan tanpa koreksi tajam. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal bahwa perekonomian global saat ini tengah berada dalam situasi yang tidak stabil.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan tren kenaikan harga emas telah dimulai sejak Februari 2024 dan terus berlanjut hingga saat ini.
“Pada Februari 2024, harga emas dunia masih berada di kisaran USD 1.974 per ons. Hari ini, harga emas telah ditransaksikan di level sekitar USD 4.950 per ons troy, atau naik sekitar 2,5 kali lipat (151 persen),” ujar Gunawan kepada awak media, Jumat (23/1).
Menurutnya, lonjakan harga emas tersebut tentu menjadi kabar baik bagi masyarakat yang menjadikan emas sebagai instrumen investasi. Namun di balik kilau kenaikan harga tersebut, tersimpan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global.
“Sejarah mencatat, setiap terjadi gejolak ekonomi dan ketidakpastian global, harga emas hampir selalu berada dalam tren naik. Ini menjadi indikasi bahwa ekonomi saat ini sedang tidak baik-baik saja,” jelasnya.
Gunawan menilai, salah satu pemicu utama meroketnya harga emas adalah meningkatnya tensi geopolitik global. Setelah konflik Rusia–Ukraina, ketegangan politik internasional justru semakin meluas.
Beberapa di antaranya melibatkan memburuknya hubungan antara Amerika Serikat dengan Rusia, China dan Taiwan, Israel dan Iran, hingga konflik kepentingan antara Amerika Serikat dengan sejumlah negara NATO. Ketegangan juga terjadi di kawasan Timur Tengah, Amerika Latin, serta Asia Tenggara, seperti hubungan Kamboja dan Thailand.
“Situasi geopolitik yang memanas ini tidak hanya berdampak pada stabilitas politik, tetapi juga merembet ke sektor ekonomi,” katanya.
Tekanan ekonomi global semakin berat dengan munculnya perang tarif, termasuk kebijakan kenaikan tarif impor yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap sejumlah mitra dagangnya, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut memperburuk ketidakpastian ekonomi dunia.
“Akumulasi tekanan politik dan ekonomi ini menggiring dunia ke ambang pertikaian global yang lebih luas, bahkan meningkatkan kekhawatiran akan risiko perang dunia ketiga,” ungkap Gunawan.
Dalam situasi penuh ketidakpastian tersebut, masyarakat global cenderung memilih instrumen penyimpanan kekayaan yang aman dan bersifat universal.
“Ketika isu perang dan ketidakpastian ekonomi semakin menguat, emas kembali menjadi primadona. Inilah yang mendorong tingginya permintaan dan membuat harga emas terus melonjak,” pungkasnya.(*)




Komentar