Tokoh Muda Sumut, Dewata Sakti: Musa Rajekshah Gagal Memahami Substansi Pembangunan Underpass Gatsu
Tokoh muda Sumatera Utara, Dewata Sakti.(Foto: Istimewa)
RUBIS.ID, MEDAN – Tokoh muda Sumatera Utara, Dewata Sakti, menilai Anggota Komisi V DPR RI Musa Rajekshah gagal memahami substansi pembangunan underpass Jalan Gatot Subroto (Gatsu), Kota Medan. Menurutnya, proyek tersebut telah melalui proses perencanaan yang matang dan berbasis kajian teknis komprehensif, bukan keputusan sepihak.
Dewata Sakti menjelaskan, pembangunan underpass Gatsu merupakan hasil evaluasi menyeluruh terhadap kondisi lapangan, karakteristik tanah, hingga kebutuhan mobilitas masyarakat Kota Medan yang terus berkembang.
“Pembangunan underpass harus dilihat secara objektif dan berbasis kebutuhan kota, bukan semata-mata membandingkan desain flyover dan underpass,” ujar Dewata Sakti, menanggapi berbagai pandangan dan kekhawatiran yang berkembang di media, Rabu (4/2).
Ia menegaskan, setiap kota memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda. Dalam konteks Kota Medan, pilihan membangun underpass di Jalan Gatot Subroto dinilai telah disesuaikan dengan kondisi teknis, tata kota, serta kebutuhan lalu lintas jangka panjang.
“Dalam konteks Medan, pembangunan underpass di Jalan Gatot Subroto merupakan pilihan yang telah disesuaikan dengan kondisi teknis, tata kota, dan kebutuhan lalu lintas jangka panjang,” tegasnya.
Dewata Sakti juga menanggapi perubahan desain dari rencana flyover menjadi underpass. Menurutnya, perubahan tersebut merupakan hal yang lazim dalam proyek infrastruktur nasional dan justru mencerminkan perencanaan yang adaptif serta bertanggung jawab.
“Perubahan perencanaan bukan berarti proyek ini keliru. Justru ini menunjukkan bahwa perencana dan pelaksana bekerja berdasarkan data, bukan asumsi,” tambahnya.
Terkait kekhawatiran potensi banjir yang ramai disorot publik, Dewata Sakti menilai hal itu telah menjadi bagian dari perhitungan teknis sejak awal perencanaan. Sistem drainase dan pompa air yang diterapkan pada underpass Gatsu, kata dia, telah disesuaikan dengan kondisi curah hujan Kota Medan dan dilengkapi standar operasional pemeliharaan.
“Semua infrastruktur memiliki risiko dan konsekuensi perawatan. Yang terpenting adalah kesiapan sistem dan komitmen pemeliharaannya. Sampai saat ini, underpass Gatsu telah menunjukkan kemampuannya menangani genangan air, bahkan saat intensitas hujan tinggi,” ungkapnya.
Dari sisi tata kota, Dewata Sakti menilai underpass lebih relevan untuk kawasan padat aktivitas seperti Jalan Gatot Subroto. Selain menjaga estetika kota, underpass dinilai mampu meminimalisasi dampak sosial dan visual yang kerap muncul pada pembangunan flyover.
“Kita tidak hanya bicara soal kelancaran lalu lintas hari ini, tetapi juga wajah Kota Medan ke depan. Underpass adalah solusi yang lebih ramah terhadap lingkungan perkotaan,” katanya.
Ia menambahkan, jika kawasan tersebut dibangun flyover, dampak terhadap estetika kota akan sangat terasa. Terlebih, hingga saat ini underpass Gatsu dinilai telah berfungsi sesuai harapan.
Menanggapi pernyataan Musa Rajekshah yang mencurigai proyek underpass tersebut hanya untuk kepentingan sekelompok orang, Dewata Sakti secara tegas membantah tudingan tersebut.
“Perencanaan pembangunan underpass disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Estetika kota juga menjadi pertimbangan. Tuduhan bahwa proyek ini hanya menguntungkan kelompok tertentu harus disampaikan dengan data dan fakta, bukan asumsi pribadi yang tidak berdasar,” tegasnya.
Dewata Sakti mengajak seluruh pihak untuk membangun diskusi yang sehat dan konstruktif demi kepentingan masyarakat luas, bukan sekadar menyebarkan kekhawatiran.
“Kritik tentu penting, tapi harus seimbang dan solutif. Pembangunan underpass Gatot Subroto merupakan langkah strategis yang disesuaikan dengan kebutuhan riil Kota Medan, didukung pertimbangan teknis, tata kota, dan visi pembangunan jangka panjang, bukan kepentingan sekelompok orang,” pungkasnya.(*)




Komentar