Harga Kebutuhan Pokok Turun di Maret, Sumut Berpeluang Deflasi

RUBIS.ID, MEDAN – Harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat di Sumatera Utara pada Maret 2026 justru mengalami penurunan, meskipun bertepatan dengan momentum Ramadan, Nyepi, dan Idulfitri yang biasanya mendorong kenaikan harga.

Ekonom sekaligus Ketua Bahan Pangan Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan kondisi ini cukup berbeda dibanding pola umum, di mana meningkatnya permintaan akibat libur panjang serta tambahan pendapatan masyarakat—seperti bantuan sosial (bansos), tunjangan hari raya (THR), dan bonus—biasanya memicu inflasi.

“Namun untuk bulan Maret ini sejumlah harga kebutuhan pokok secara bulanan justru mengalami penurunan,” ujar Gunawan kepada wartawan, Rabu (25/3).

Ia merinci, beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain daging ayam turun sekitar 2,3 persen, daging sapi 0,5 persen, telur ayam 7,3 persen, bawang putih 7,8 persen, cabai merah 8,7 persen, dan cabai rawit 7,6 persen.
Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga, seperti minyak goreng sebesar 2,4 persen dan gula pasir naik 2,7 persen.

Gunawan menambahkan, komoditas lain seperti kentang dan buncis masih berpotensi mendorong inflasi. Selain itu, harga tiket pesawat juga diproyeksikan menyumbang inflasi tipis pada Maret. Sementara harga emas justru berpeluang memberikan andil terhadap deflasi di wilayah Sumatera Utara.

“Secara keseluruhan, sejauh ini saya menghitung Sumut berpeluang mencetak deflasi paling sedikit 0,18 persen secara bulanan atau month to month,” jelasnya.

Meski masih menyisakan beberapa hari di bulan Maret, ia menilai tren harga yang ada menunjukkan peluang deflasi tetap terbuka.
Jika terealisasi, deflasi pada Maret ini akan menjadi fenomena yang relatif jarang, mengingat periode hari besar keagamaan biasanya identik dengan kenaikan harga.

Menurut Gunawan, kondisi ini tidak terlepas dari berbagai upaya pemerintah dalam mengendalikan inflasi, salah satunya melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM). Selain itu, panen cabai yang cukup besar turut membantu menekan harga komoditas yang selama ini kerap menjadi penyumbang inflasi.

“Deflasi yang tercipta di bulan ini lebih karena kerja keras dan upaya konkret dalam meredam gejolak harga, bukan semata faktor keberuntungan,” tegasnya.

Ia menilai, formula pengendalian harga yang diterapkan saat ini terbukti efektif, terutama selama masih terdapat disparitas harga antarwilayah di Indonesia.

Ke depan, ia menekankan pentingnya kebijakan yang tepat guna agar stabilitas harga tetap terjaga dalam batas keekonomian yang mampu menyeimbangkan kepentingan produsen dan konsumen.(*)

Komentar

Loading...