OJK Tekankan Pentingnya Pendidikan Keuangan Sejak Dini di Global Money Week 2026
Teks foto: Para narasumber dari berbagai negara dalam webinar internasional yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan pada momentum Global Money Week 2026.(Dok.OJK)
RUBIS.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong penguatan literasi keuangan generasi muda melalui integrasi pendidikan keuangan dalam sistem pendidikan formal. Langkah ini dinilai penting untuk membentuk masyarakat yang memiliki kesadaran serta ketahanan finansial sejak usia dini.
Hal tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, dalam webinar internasional bertajuk “From Early Education to Financial Health: Integrating Financial Literacy into Formal Education Systems” yang digelar secara virtual, Jumat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Global Money Week 2026.
Menurut Dicky, literasi keuangan tidak cukup hanya sebatas pengetahuan, melainkan harus mampu diwujudkan menjadi kesehatan keuangan yang mencakup ketahanan, kemampuan pengambilan keputusan, serta kesejahteraan finansial jangka panjang.
“Literasi keuangan harus mampu diwujudkan menjadi kesehatan keuangan. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga ketahanan, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, serta kesejahteraan keuangan jangka panjang, khususnya bagi generasi muda,” ujarnya melalui press rilis, Jumat (17/4).
Ia menegaskan bahwa sektor pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun kapasitas keuangan masyarakat melalui penguatan pengetahuan, keterampilan praktis, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Integrasi literasi keuangan dalam kurikulum diyakini dapat menjadi fondasi kuat bagi individu dalam mengambil keputusan finansial yang bijak sepanjang hidup.
Lebih lanjut, OJK juga menilai edukasi keuangan perlu diperluas melampaui ruang kelas, termasuk melalui pemanfaatan platform digital, kampanye nasional, serta kolaborasi lintas sektor guna menciptakan ekosistem literasi keuangan yang inklusif.
Dalam kesempatan yang sama, Chair OECD International Network on Financial Education, Magda Bianco, menekankan bahwa literasi keuangan merupakan bekal penting bagi masyarakat dalam memanfaatkan peluang sekaligus mengelola risiko keuangan.
Menurutnya, kemudahan akses informasi dan berkembangnya berbagai instrumen investasi turut membawa tantangan baru, terutama terkait maraknya informasi yang tidak selalu kredibel. Oleh karena itu, kompetensi keuangan perlu dibangun sejak usia sekolah.
Magda menjelaskan, terdapat dua alasan utama pentingnya pendidikan keuangan sejak dini. Pertama, pengetahuan yang diperoleh sejak usia muda lebih mudah tertanam hingga dewasa. Kedua, pendidikan keuangan dapat membantu mengurangi kesenjangan akibat perbedaan latar belakang sosial ekonomi.
Ia juga menambahkan bahwa berbagai bukti empiris menunjukkan literasi keuangan mampu meningkatkan ketahanan individu dalam menghadapi guncangan ekonomi, menghindari utang berlebih, serta mendorong keputusan investasi yang lebih rasional melalui pemahaman risiko dan imbal hasil.
Secara keseluruhan, peningkatan literasi keuangan dinilai tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas sistem keuangan, efektivitas kebijakan moneter, serta pengurangan kesenjangan sosial.
Sebagai informasi, Global Money Week 2026 mengusung tema “Smart Money Talks”, yang menekankan pentingnya percakapan terbuka dan inklusif mengenai keuangan di lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas. Inisiatif global ini digagas oleh Organisation for Economic Co-operation and Development melalui jaringan OECD/INFE.
Kegiatan webinar tersebut diikuti sekitar 3.000 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari perwakilan kementerian/lembaga, industri jasa keuangan, tenaga pendidik, akademisi, mahasiswa, hingga Duta Literasi Keuangan OJK.(*)

Komentar