Penguatan Demokrasi Indonesia Dimulai dari Kampus dan Anak Muda
RUBIS.ID, MEDAN — Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun ruang intelektual generasi muda melalui kegiatan International Joint Seminar & Call For Papers yang digelar di Medan, Senin (18/5/2026).
Mengusung tema “Suara Anak Muda: Membangun Pendidikan Demokrasi Indonesia Melalui Gagasan Inovatif, Humanis dan Religius”, kegiatan ini menjadi wadah diskusi strategis bagi mahasiswa, akademisi, peneliti, hingga praktisi dalam membahas masa depan demokrasi Indonesia di tengah tantangan era digital.
Dekan FUSI UINSU, Dr. Maraimbang menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan arah demokrasi bangsa.
Menurutnya, demokrasi tidak hanya berkaitan dengan politik praktis, tetapi juga menyangkut nilai kemanusiaan, moralitas, dan pendidikan karakter.
“Anak muda hari ini harus menjadi motor perubahan yang membawa demokrasi Indonesia ke arah yang lebih beradab, inovatif, dan tetap berlandaskan nilai religius,” ujarnya.
Seminar berskala internasional tersebut menghadirkan akademisi dan tokoh pendidikan dari Indonesia maupun Malaysia. Forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan terkait pendidikan demokrasi di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi media sosial.
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi menilai pendidikan demokrasi harus mampu menjawab tantangan zaman.
“Demokrasi yang sehat lahir dari masyarakat yang kritis, terdidik, dan mampu menghargai perbedaan. Karena itu, suara anak muda tidak boleh hanya menjadi pelengkap, tetapi harus menjadi kekuatan utama dalam pembangunan bangsa,” katanya.
Sementara itu, Direktur Pusat Kajian Politik (PUSKAPOL) FUSI UINSU, Dr. Aminuddin menyoroti pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dalam membangun pendidikan demokrasi yang relevan dengan perkembangan global.
“Seminar ini bukan sekadar forum akademik, tetapi ruang bertemunya gagasan untuk melahirkan solusi nyata bagi masa depan demokrasi Indonesia,” ujarnya.
Nuansa internasional dalam seminar tersebut semakin kuat dengan hadirnya pemateri dari Universiti Utara Malaysia, Dr. S Maartandan Suppiah.
Ia menyampaikan bahwa generasi muda memiliki kekuatan besar melalui teknologi dan media digital. “Karena itu, mereka harus menggunakan ruang digital untuk menyebarkan gagasan yang membangun, bukan memperdalam perpecahan,” ungkapnya.
Dalam sesi pemaparan lainnya, Naufal Rifki Nasution menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam membangun pola pikir generasi muda yang lebih terbuka terhadap perkembangan demokrasi dunia.
Sedangkan Dekan FISIP Universitas Islam Sumatera Utara, Ridwan Nasution menyoroti pentingnya peran kampus dalam membentuk karakter generasi muda yang kritis dan bertanggung jawab.
“Anak muda harus mampu menjadi agen perubahan yang membawa nilai persatuan, etika, dan kepedulian sosial dalam demokrasi Indonesia. Inovasi tanpa batas, kemanusiaan sebagai landasan, dan nilai religius sebagai kompas,” ujarnya.
Menurutnya, generasi muda Indonesia merupakan agen perubahan yang sesungguhnya.
Dengan semangat kolaborasi dan intelektualitas, International Joint Seminar & Call For Papers ini diharapkan menjadi momentum lahirnya gagasan-gagasan baru dari generasi muda demi terciptanya demokrasi Indonesia yang lebih inklusif, humanis, dan bermartabat.(*)




Komentar