Jenazah Pasien Puskesmas Lolomatua Diangkut Menggunakan Betor, Keluarga Merasa Kecewa
RUBIS.ID, NISEL - Sangat memprihantikan peristiwa di Kecamatan Lolomatua, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, menjadi sorotan publik. Video viral di media sosial (Medsos) memperlihatkan jenazah seorang pasien harus diangkut menggunakan becak motor karena ambulans puskesmas tidak bisa digunakan alias rusak sehingga Keluarga merasa sangat kecewa.
Hal itu dikatakan suami Maniati Halawa (Alm) saat di wawancarai sejumlah wartawan dari berbagai media di kediamannya di Desa Loloana'a, Kecamatan Ulunoyo. Kamis (3/4)
"Saya sangat kecewa, sehingga almarhum (istrinya) itu diangkut pakai becak mesin. apakah karena kami ini orang biasa yang tidak punya apa-apa (miskin)", ungkap Nasowolo'o Ndruru dengan wajah sedih.
Ia juga meminta kepada Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan, Sokhiatulo Laia-Ir. Yusuf Nache, ST., MM supaya peristiwa yang dialaminya itu tidak terulang lagi kepada orang lain.
"Semoga peristiwa ini menjadi bahan evaluasi kepada Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan", harapnya.
Sementara Kepala Desa Loloana'a, Martinus Ndruru (38) menanggapi peristiwa yang dialami warganya itu, Ia mengharapkan kepada Pemerintahan Kabupaten Nias Selatan supaya ini menjadi perhatian khusus agar tidak terjadi lagi jenazah pasien diangkut pakai becak mesin terhadap masyarakat lainnya.
"Kiranya para kepala Puskesmas selalu berkoordinasi kepada stakeholder sehingga apapun kendalanya segera teratasi", harapnya.
Kepala Puskesmas Lolomatua, Herthin Susila Mendrofa, AMKeb saat dikonfirmasi diruangannya mengatakan bahwa sebenarnya pasien itu termasuk wilayah puskesmas Ulunoyo. Jadi pada hari Senin (31/3) di pekan di tuhemberua Kecamatan Lolomatua, Maniati Halawa (Alm) ini pergi ke pekan lalu tiba-tiba pingsan dan muntah kemudian di kusuk.
Setiba di puskesmas lolomatu sudah tidak sadar dalam keadaan ngorok. Jadi tidur
Kemudian dia diperiksa, lalu dokter mengajukan untuk dirujuk ke RSUD Thomsen namun pihak keluarga menolak dan surat pernyataan sudah ditandatangani pihak keluarga. Kami tidak mengusir pasien, yang penting kalau ada apa-apa itu diluar tanggungjawab kami. Karena sudah diajukan rujukan jadi kalau dirawat di sini tidak masalah.
"Ternyata pasien tidak lama kemudian wafat sekira pukul 11:00 Wib, kebetulan puskesmas lolomatu ada rawat inap, sehingga dimasing-masing sif koordinator mereka sampaikan kepada keluarga korban bahwa mobil ambulance kita dalam keadaan rusak. Dan keluarga sudah tau dengan itu, jadi saya dihubungi kebetulan kan tanggal merah", kata Herthin.
Lanjutnya, Herthin Susila Mendrofa menyampaikan bahwa kami memiliki group PSC yang dibuat oleh Dinas kesehatan. Misalnya ada yang membutuhkan mobil ambulance, nah saya telpon yang ada mobil ambulance namun tidak aktif. Tidak hanya itu, kami juga menghubungi yang punya mobil L300 tapi mereka tidak bersedia mangantarkan jenazahnya.
"Karena disini ada mitosnya kalau mobil itu mengantarkan jenazah nanti ada hal-hal yang terjadi", ujarnya.
Kemudian sekira pukul 15:30 Wib saya telpon kepala seksi (Kasi) Dinas Kesehatan ternyata tidak ada respon, dan kembali saya telpon balik sekira pukul 16:30 Wib sementara keluarga juga mendesak jenazah akan dibawa kerumah, selanjutnya, saya juga menawarkan supaya jenazah itu difotmalin, tapi mereka tidak mau dengan alasan didoain dulu jenazahnya baru di pasang formalin.
"Keluarga sendiri yang mencari becak mesin, sehingga jenazah tersebut dibawa dengan menggunakan becak mesin sampai kerumah", ujarnya.
Sementara kerusakan ambulance sudah kami sampaikan secara tertulis, dan respon dari Dinas Kesehatan katanya akan dianggarkan.
Lanjut Kapus menjelaskan bahwa kerusakan mobil ambulance tersebut sejak tahun 2023 lalu dan dapat diperbaiki lagi, kemudian rusak lagi dan diperbaiki kembali. Karena cuma mobil ambulance puskesmas lolomatua yang aktif, jadi semua pasien di wilayah ini kami ambil semua.
"Pernah dalam sehari mobil ambulance ini tiga kali mundar-mandir mungkin sudah tua, karena perawatan sebelumnya rusak lagi di bulan November diperbaiki dari bengkel itu setelah sampai di sini itupun masih belum dipakai kembali rusak lagi", ungkapnya.
"Hari Selasa, (1/4) kemarin mekaniknya sudah ke sini memperbaiki mobil ambulance itu, namun kata mekaniknya mobil ambulance dibongkar mesin dan harus diderek ke teluk dalam", pintanya.
Disinggung terkait anggaran rehabilitasi mobil ambulance, kapus Lolowatua mengatakan terkait hal tersebut itu adalah kewenangan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan, kecuali kalau anggaran JKNnya besar kami hanya menganggarkan Oli sementara yang lain tidak.
"Anggaran BOK tidak termasuk dana pemeliharaan mobil ambulance, hanya diperuntukkan untuk perjalanan dinas, SPP saja tidak termasuk", tandasnya.
Ketika ditanyakan siapa yang membidangi rehabilitasi mobil, jawab Kapus Lolowatua adalah Bidang Yankers.
Herthin Susila Mendrofa juga mengharapkan kepada pemerintah kabupaten Nias Selatan supaya mobil ambulance yang baru dapat diberikan kepada puskesmas Lolomatua.
"Apalagi Puskesmas Lolomatua ada Rawat Inap, jadi kami membutuhkan mobil ambulance yang baru", harapnya. (Ikhtiar Wau)




Komentar