Aliansi Mahasiswa Bersatu Kecam Tindakan Represif Aparat, Tuntut Kejelasan dan Keputusan Tegas dari Pemerintah

RUBIS.ID, MEDAN – Aliansi Mahasiswa Bersatu yang terdiri dari berbagai organisasi mahasiswa terkemuka di Indonesia, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH), dan BEM Nusantara, menyatakan duka cita mendalam atas insiden tragis yang terjadi akibat tindakan represif aparat di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Kota Medan, pada 27 dan 29 Agustus 2025.

Dalam sebuah konferensi pers yang digelar hari ini, aliansi mahasiswa ini menyampaikan penyesalannya atas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Menurut pernyataan mereka, kekerasan tersebut melampaui batas kewajaran dan telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, serta merusak rasa keadilan dan kemanusiaan di Indonesia.

“Kami sangat menyesalkan peristiwa ini. Tragedi ini bukan hanya melukai korban secara fisik, tetapi juga menodai prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) yang kita junjung tinggi di Indonesia,” ujar Agung, juru bicara Aliansi Mahasiswa Bersatu, dalam konferensi pers yang berlangsung di Medan.

Pelanggaran HAM Berat, Tuntutan ke Pemerintah

Aliansi Mahasiswa Bersatu menilai bahwa insiden ini menunjukkan adanya tindakan represif yang tidak hanya tidak profesional, tetapi juga tidak berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan. Mereka menekankan bahwa kebijakan pemerintah yang berorientasi pada penegakan HAM dan perlindungan rakyat harus diimplementasikan secara konkret, dan bukan sekadar retorika politik.

“Ini adalah pelanggaran HAM yang sangat berat. Apabila dibiarkan, ini akan menjadi preseden buruk bagi masa depan penegakan hukum di Indonesia. Kepercayaan publik terhadap pemerintah bisa terkikis, dan kita akan kembali dihadapkan pada bayang-bayang masa lalu yang kelam,” tegas Agung.

Mereka juga menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak berwenang, dengan sejumlah langkah konkret yang harus segera diambil oleh pemerintah. Aliansi Mahasiswa Bersatu mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk segera menanggapi permasalahan ini secara serius dan mengambil tindakan tegas terhadap aparat yang terbukti melakukan pelanggaran.

Tuntutan Aliansi Mahasiswa Bersatu:

1. Usut Tuntas Insiden Represifitas: Aliansi Mahasiswa Bersatu menuntut agar pemerintah mengusut tuntas insiden kekerasan pada aksi unjuk rasa yang terjadi pada 27 dan 29 Agustus 2025. Proses ini harus dilakukan secara transparan, adil, dan segera mengumumkan hasilnya kepada publik.

2. Sanksi Tegas bagi Aparat yang Bersalah: Mereka mendesak agar aparat yang terbukti bersalah dalam melakukan tindakan represif diberi sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku, baik sanksi pidana maupun sanksi etik.

3. Pertanggungjawaban KAPOLRI: Menuntut pertanggungjawaban penuh dari Kepala Kepolisian Republik Indonesia (KAPOLRI) atas tindakan represif yang dilakukan oleh aparat kepolisian dalam mengamankan aksi unjuk rasa di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara.

4. Pengunduran Diri KAPOLRI: Mereka juga menuntut agar KAPOLRI mundur dari jabatannya karena dianggap gagal dalam mengendalikan aparat kepolisian di tingkat bawah, yang mengarah pada ketidaknyamanan bagi masyarakat dalam menyampaikan aspirasi.

5. Pencopotan KAPOLDA Sumatera Utara: Aliansi Mahasiswa Bersatu meminta agar Kepala Kepolisian Daerah (KAPOLDA) Sumatera Utara dicopot karena dinilai tidak mampu memimpin aparat kepolisian di wilayah tersebut, yang berujung pada tindakan represif terhadap massa aksi unjuk rasa.

Mengajak Masyarakat untuk Mengawal Kasus

Tak hanya menuntut tindakan tegas dari pemerintah, Aliansi Mahasiswa Bersatu juga mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama mahasiswa, untuk terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Mereka berkomitmen untuk terus memperjuangkan keadilan dan memastikan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

“Kami tidak akan berhenti berjuang. Kami akan terus bersuara dan beraksi sampai tuntutan kami didengar dan keadilan ditegakkan,” tambah Agung.

Ia menegaskan bahwa dalam situasi ini, kemanusiaan harus menjadi prioritas utama dan nyawa rakyat tidak boleh menjadi harga mati dalam politik kekuasaan. Jika tuntutan mereka tidak diindahkan, Aliansi Mahasiswa Bersatu mengancam akan menggelar aksi turun ke jalan hingga pemerintah mendengarkan dan merespon tuntutan mereka.

Solidaritas Mahasiswa untuk Keadilan

Dengan semangat perjuangan yang kuat, Aliansi Mahasiswa Bersatu menegaskan bahwa mereka akan terus memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia, serta mendesak agar aparat penegak hukum selalu berlandaskan pada prinsip-prinsip kemanusiaan dan keadilan. Kemanusiaan dan hak hidup rakyat Indonesia tidak boleh dikorbankan oleh kekuasaan apapun.(*)

Komentar

Loading...