Anak-Anak Korban Banjir Aceh Tamiang Titipkan Harapan Lewat Surat untuk Presiden

RUBIS.ID, ACEH TAMIANG — Di tengah sisa-sisa banjir yang masih menyelimuti wilayah Aceh Tamiang, tawa anak-anak sesekali terdengar dari sudut posko pengungsian. Di balik keceriaan itu, tersimpan kisah kehilangan, kerinduan, sekaligus harapan sederhana akan kehidupan yang ingin kembali pulih.

Pada Minggu (18/1/2026), sejumlah relawan asal Kota Medan menyambangi lokasi pengungsian di Posko Sumur Cincin Kampung Durian dan Posko Kota Lintang Bawah, Kuala Simpang. Kehadiran mereka tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga menghadirkan ruang aman bagi anak-anak korban banjir melalui kegiatan trauma healing.

Melalui aktivitas bermain, bercerita, hingga menulis harapan, anak-anak diajak mengekspresikan perasaan mereka pascabencana. Di atas selembar kertas sederhana, tertulis bukan permintaan mewah, melainkan impian polos tentang rumah, sekolah, orang tua, serta kota yang ingin kembali hidup seperti sedia kala.

Salah satunya Aulia Pertiwi (13), siswi kelas VII, yang menuliskan harapannya agar keadaan segera normal. Banjir tak hanya merusak rumah dan sekolahnya, tetapi juga menghentikan aktivitas sang ibu yang biasa berjualan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

“Saya ingin semuanya membaik, kota dan sekolah saya pulih seperti dulu, supaya ibu bisa berdagang lagi,” ujar Aulia lirih, matanya menyimpan kerinduan akan rutinitas yang hilang.

Bagi anak-anak lainnya, harapan itu hadir dalam bentuk yang lebih sederhana. Rafa, dengan tulisan tangan polosnya, menyapa langsung Presiden Republik Indonesia.“Halo Pak Presiden, kami mau punya lapangan bola,” tulisnya singkat.

Kalimat sederhana tersebut mencerminkan kerinduan anak-anak untuk kembali bermain, berlari, dan tertawa bersama teman-teman tanpa bayang-bayang bencana.

Salah seorang relawan, Andrey, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemulihan trauma psikologis anak-anak pascabanjir. Menurutnya, banyak dari mereka justru memikirkan masa depan keluarga dan lingkungan, bukan hanya diri sendiri.

“Ada yang berharap punya rumah lagi, ada yang ingin sekolahnya dibangun kembali, ada juga yang berharap orang tuanya bisa bekerja seperti dulu. Harapan mereka beragam, tapi semuanya tentang pemulihan,” ungkap Andrey.

Ratusan lembar surat berisi harapan tersebut rencananya akan dikemas dan dikirim ke Istana Presiden di Jakarta. Surat-surat itu menjadi simbol suara anak-anak korban banjir Aceh Tamiang—suara kecil yang lahir dari luka, namun sarat dengan harapan.

Para relawan berharap, pesan-pesan itu dapat dibaca dan menjadi pengingat bahwa di balik data dan angka bencana, terdapat anak-anak yang tengah menanti masa depan mereka kembali utuh.

“Mudah-mudahan harapan kecil ini bisa sampai dan membawa terang bagi kehidupan mereka,” tutup Andrey.

Di tengah banjir yang memisahkan rumah, sekolah, dan ruang bermain, anak-anak Aceh Tamiang memilih menitipkan mimpi. Pada kertas sederhana, mereka percaya suatu hari nanti kota mereka akan pulih, dan kehidupan bisa kembali berjalan seperti sebelumnya. (*)

Komentar

Loading...