Harga Bawang Merah Melonjak, Jadi Pemicu Inflasi di Sumut Juli 2025
RUBIS.ID, MEDAN – Harga bawang merah melonjak tajam di Sumatera Utara (Sumut) pada bulan Juli 2025 dan menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi tertinggi. Berdasarkan data yang dihimpun, Sumut mencatat inflasi sebesar 0,76%, dengan bawang merah menjadi penyumbang terbesar lonjakan tersebut.
Kenaikan harga bawang merah terbilang signifikan. Jika pada bulan Juni harga sempat ditransaksikan di kisaran Rp30.000 per kilogram, pada Juli harga melonjak hingga Rp50.000 per kilogram berdasarkan sampel dari pedagang yang sama.
"Secara rata-rata, harga bawang merah mengalami kenaikan sebesar 17,5%. Semua panel harga, termasuk yang tercantum dalam PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis), mencatat adanya kenaikan," ujar Gunawan Benjamin, Pengamat Ekonomi dan Ketua Bahan Pangan Sumut, kepada Rubis.id, Minggu (03/08/2025).
Pasokan dari Jawa Tersendat, Ketergantungan Tinggi pada Luar Daerah
Menurut Gunawan, lonjakan harga ini disebabkan oleh berkurangnya pasokan bawang merah dari wilayah Jawa, yang selama ini menjadi pemasok utama. Saat ini, Sumut bergantung pada pasokan dari Sumatera Barat sekitar 80%, dan hanya 20% yang berasal dari produksi lokal, terutama dari Kabupaten Samosir.
"Jawa saat ini tidak memasok ke Sumut karena harga di wilayah mereka lebih kompetitif jika dijual di dalam daerah. Akibatnya, suplai ke Sumut menurun drastis," ujarnya.
Produktivitas Petani Menurun Akibat Kualitas Bibit yang Buruk
Gunawan juga menyoroti persoalan mendasar di tingkat petani bawang merah di Sumut, yakni rendahnya produktivitas akibat buruknya kualitas bibit. Dari 100 kg bibit, biasanya bisa menghasilkan hingga 3 ton bawang merah. Namun saat ini, produksi maksimal hanya sekitar 1,5 ton.
"Petani mengeluhkan bahwa dari satu karung bibit ukuran 25–30 kg, hanya sekitar 35% yang benar-benar berkualitas bagus. Sisanya tetap bisa ditanam, tapi hasilnya tidak maksimal," tambahnya.
Bibit bawang merah sendiri masih didatangkan dari Jawa, dan belum ada pengembangan bibit lokal yang efektif. Masa semai yang ideal, menurut petani, seharusnya minimal 120 hari agar kualitasnya terjaga.
Solusi: Edukasi dan Pendampingan Petani
Ada dua solusi yang ditawarkan oleh Gunawan untuk mengatasi persoalan ini. Pertama, memberikan edukasi kepada petani terkait teknik penyemaian bibit yang baik. Kedua, memberikan pendampingan intensif serta akses terhadap bibit berkualitas.
"Pemerintah daerah bisa memberangkatkan petani ke Jawa untuk belajar langsung teknik penyemaian. Atau mengembangkan pusat observasi benih bawang merah di Sumut yang bisa jadi sumber bibit berkualitas," ujarnya.
Dengan pembenahan serius, Gunawan meyakini Sumut bisa mandiri dalam produksi bawang merah dan tidak lagi bergantung pada pasokan luar daerah yang kerap fluktuatif. Selain Jawa, Sumatera Barat juga disebut memiliki SDM yang berpengalaman dalam budidaya bawang merah, yang bisa menjadi mitra strategis dalam upaya peningkatan produksi lokal.(EL)

Komentar