KAI Sumut Angkut 27.787 Ton Petikemas: Solusi Kemacetan dan Distribusi Hijau di Sumatera Utara

RUBIS.ID, MEDAN - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat volume angkutan petikemas mencapai 27.787 ton pada Mei 2026, melonjak 109 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar 13.265 ton.

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara Anwar Yuli Prastyo mengatakan pertumbuhan signifikan ini menjadi indikator positif meningkatnya aktivitas logistik dan efisiensi distribusi arus barang di wilayah Sumatera Utara.

“Angkutan petikemas melalui kereta api terus menunjukkan tren yang baik. Hal ini mencerminkan peningkatan kepercayaan pelanggan terhadap layanan logistik berbasis kereta api yang mampu mendukung kelancaran distribusi barang dari dan menuju berbagai kawasan industri maupun pelabuhan,” ujar Anwar.

Menurut Anwar, salah satu penopang utama pertumbuhan angkutan barang tersebut adalah optimalisasi konektivitas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun. Jaringan perkeretaapian yang terintegrasi di pusat pengembangan industri berbasis kelapa sawit dan turunannya tersebut dinilai efektif mempercepat pergerakan logistik ke pelabuhan tujuan.

Secara akumulatif, sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, KAI Divre I Sumatera Utara telah mengangkut total 130.013 ton petikemas.

Anwar menjelaskan, penggunaan moda kereta api memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan beban jalan raya. Ia mengalkulasikan, muatan satu kontainer 42 ton yang diangkut dengan kereta api setara dengan kapasitas dua truk tronton di jalan raya.

"Rata-rata setiap harinya KAI Divre I Sumut mengoperasikan 54 gerbong petikemas. Artinya, operasional ini mampu mengurangi kepadatan jalan raya dari potensi kemacetan hingga 108 truk tronton per hari," katanya.

Selain mengurai kepadatan lalu lintas, pengalihan beban angkutan barang ke kereta api juga menjadi solusi strategis di tengah dinamika harga bahan bakar minyak (BBM), mengingat kapasitas daya angkut kereta api yang bersifat massal dan bersekala besar.

Dari sisi lingkungan, moda kereta api juga menawarkan tingkat emisi yang jauh lebih rendah. Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), emisi karbon kereta api rata-rata hanya menghasilkan sekitar 15 hingga 30 gram CO₂ per ton-kilometer. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan angkutan truk yang menghasilkan emisi sekitar 60 hingga 120 gram CO₂ per ton-kilometer.

"Kami optimistis angkutan logistik berbasis kereta api di Sumut akan terus berkembang. KAI akan terus meningkatkan keandalan layanan guna mendukung kebutuhan pelaku usaha sekaligus mewujudkan ekosistem distribusi barang yang efisien dan ramah lingkungan," tutur Anwar.(*)

Komentar

Loading...