Alarm Hari Bumi: Pakar Universitas Pertamina Peringatkan Bahaya Gas Metana dari TPA
Teks foto: Dr. Koko sedang mempresentasikan paper ilmiah di 4th International Conference on Environmental Sustainability Through Waste and Recycling (ENSURE), April 13–15, 2026, Boston, MA, Amerika Serikat.(Dok.UPER/ Ist)
RUBIS.ID, JAKARTA — Peringatan Hari Bumi pada 22 April lalu menjadi momentum penting untuk mengevaluasi langkah nyata Indonesia dalam menghadapi krisis iklim. Laporan STOP Methane Project dari UCLA tahun 2025 mengungkap temuan mencengangkan: lokasi pembuangan sampah di Jakarta terdeteksi satelit sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia dalam kategori fasilitas limbah global.
Gas metana yang dilepaskan dari tumpukan sampah organik diketahui memiliki daya pemanasan hingga 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2). Kondisi ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap percepatan pemanasan global.
Pakar Teknik Lingkungan Universitas Pertamina, I Wayan Koko Suryawan, menegaskan bahwa temuan tersebut merupakan alarm keras bagi Indonesia. Ia menyebut, data berbasis satelit menunjukkan tingkat urgensi yang tidak bisa diabaikan.
“Ketika Jakarta menempati posisi kedua dunia, itu artinya kita sedang menghadapi bom waktu iklim. Satu titik emisi TPA yang pekat bisa setara dengan polusi dari satu juta mobil SUV dalam setahun,” ujarnya.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025 turut memperkuat kekhawatiran tersebut. Dari total 56,63 juta ton sampah nasional per tahun, sekitar 21,85 persen masih dikelola dengan metode open dumping, yang menjadi sumber utama emisi metana dalam jumlah besar.
Melalui riset terbarunya yang dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Ecological Indicators, Dr. Koko menawarkan solusi adaptif untuk memutus rantai emisi sejak dari sumbernya. Penelitian berjudul Achieving Zero Waste for Landfills by Employing Adaptive Municipal Solid Waste Management Services itu melibatkan 651 responden warga Jakarta dari berbagai latar belakang.
Hasilnya menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sebenarnya sudah tinggi, namun belum diikuti dengan aksi nyata akibat keterbatasan fasilitas.
“Masyarakat sudah paham pentingnya memilah sampah, tetapi sistemnya belum mendukung. Diperlukan pendekatan yang lebih dekat, seperti pengingat melalui ponsel, optimalisasi bank sampah, serta peran aktif tokoh masyarakat,” jelasnya.
Penelitian tersebut juga mengungkap adanya perbedaan kebutuhan antarwilayah. Di kawasan elit, penerapan teknologi Smart City seperti sensor digital dinilai efektif. Sementara di kawasan padat penduduk, kebutuhan utama adalah kepastian pengangkutan sampah tepat waktu serta ketersediaan fasilitas pemilahan.
Selain itu, Dr. Koko mendorong percepatan penerapan teknologi penangkapan gas metana atau Landfill Gas (LFG) di TPA Bantargebang untuk dikonversi menjadi energi listrik. Ia menilai kapasitas infrastruktur saat ini masih belum optimal untuk menangani besarnya emisi yang dihasilkan.
Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Djoko Triyono, menegaskan komitmen institusinya dalam menghadirkan solusi berbasis sains dan teknologi.
Menurutnya, Universitas Pertamina yang didirikan oleh PT Pertamina (Persero) akan terus mendorong pengembangan riset terapan, termasuk teknologi penangkapan metana, guna mengakhiri praktik open dumping sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008.
“Langkah ini penting untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 11 tentang kota berkelanjutan dan SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim,” tutupnya.(*)

Komentar